Ketua Komisi I DPRD Kepulauan Riau, Sukri Fahrial, mengatakan sikap rakyat Indonesia yang berang dengan tindakan Malaysia sangat wajar dan bukanlah tindakan yang berlebihan.
“Saya menilai sangat wajar, karena tindakan Malaysia melanggar kedaulatan negara kita bukan hanya sekali tetapi sudah berulang-ulang sehingga menimbulkan amarah dari rakyat Indonesia,” kata Sukri di Tanjungpinang, Kamis.
Aksi demonstrasi yang di berbagai daerah menurut dia sebagai luapan emosi yang juga sangat wajar dan bukan karena provokasi pihak lain.
“Siapa yang tidak marah kalau kedaulatan negaranya dilanggar pihak asing,” ujarnya yang diusung oleh Hanura.
Dia menilai ketidakjelasan batas wilayah dan tidak tegasnya pemerintah juga rawan menjadi pemicu konflik antarkedua negara.
“Kami berharap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lebih tegas mengenai batas wilayah. Kalau Malaysia tidak mau berunding silakan saja, namun pemerintah harus mengambil tindakan yang lebih tegas,” katanya.
Dia mengharapkan batas perairan dengan Malaysia segera diselesaikan terutama di Kepri, agar tidak ada nelayan dari Indonesia yang dituduh mencuri ikan diperairan Malaysia yang miskin itu, padahal masih wilayah Indonsesia, ataupun sebaliknya.
Selain itu, menurut dia armada laut di daerah perbatasan agar diperkuat untuk menjaga kedaulatan negara.
“Seluruh pihak terkait di laut kami harapkan diperkuat, agar pihak asing tidak sembarangan memasuki wilayah Indonesia dan juga untuk menjaga kedaulatan negara,” harapnya.
Namun demikian menurut Menko Perekonomian Hatta Rajasa, hingga saat ini tidak ada rencana meninjau ulang kerja sama ekonomi antara Indonesia dengan Malaysia.
“Tidak ada peninjauan ulang kerja sama ekonomi dengan Malaysia,” kata Hatta Rajasa di Kantor Menko Perekonomian Jakarta, Kamis.
Hatta menyebutkan, selama 2005-2009, Malaysia merupakan investor terbesar kelima yang menanamkan modalnya di Indonesia dengan nilai sebesar 1,2 miliar dolar AS.
“Dari sisi tenaga kerja, ada dua juta tenaga kerja Indonesia, 13.000 pelajar,” katanya.
Ia menyebutkan, kerjasama bidang ekonomi kedua negara menunjukkan perkembangan yang terus meningkat.
Sementara itu investasi Indonesia pada 2005 hingga 2009 di Malaysia mencapai sekitar 500 juta dolar AS, jumlah pelajar Malaysia di Indonesia sekitar 6.000 orang.
Menurut Hatta, pidato Presiden Yudhoyono pada Rabu malam di Mabes TNI Cilangkap menggambarkan Indonesia sebagai bangsa besar.
“Ada empat poin penting antara lain bahwa kita tetap tidak kompromi untuk masalah kedaulatan kita, kita ingin menyelesaikan masalah perbatasan yang disengketakan sesegera mungkin,” katanya.
Menurut Hatta, pemerintah juga mengembangkan diplomasi sehat di antara kedua negara.
“Artinya jika ada hal hal yang berkaitan dengan dugaan hal-hal yang berkaitan dengan perlakukan kurang baik, harus segera dilakukan penyelidikan,” katanya.(*)

