Ulos Batak suatu saat akan menjadi raja kain di dunia, berdasarkan makna philosopis dan kekuatan yang terkandung di dalamnya.
Juga, mengingat proses pengerjaan yang unik, meskipun tidak rumit, ungkap Merdi Sihombing (42), perancang busana Jakarta, Senin.
Menurutnya, di antara kain tenun ikat yang ada, hanya ulos yang memiliki arti mendalam dan sangat luas. Dibedakan atas proses pembuatan gorga/motif beserta coraknya, dan menjadi ukuran penentu bagi nilai dan harganya. Pemakaiannya, disesuaikan status dan kondisi tertentu.
Merdi mengemukakan, ulos bukan hanya digunakan sebatas keperluan adat saja. Pelestariannya, dia aplikasikan dalam bentuk fashion. Dalam waktu dekat, warisan budaya ini akan dibawanya mewakili Indonesia mengikuti perlombaan tingkat Asean di Bangkok.
“Kita patut bangga atas eksistensi ulos yang diwariskan leluhur terdahulu. Teknik pengerjaannya sangat kaya dengan berbagai corak, menggambarkan nilai seni lewat perpaduan warna dan gorga. Meski demikian, bisa dibentuk dari peralatan yang sangat sederhana, “terangnya.
Ia menjelaskan, modifikasi rancangannya bisa dikategorikan sebagai upaya diversifikasi produk kerajinan tenun. Sehingga, pangsa pasarnya akan semakin luas, yang pada gilirannya mampu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan pengrajin.
Desain yang dikembangkan, tambah Merdi lagi, merupakan hasil karya penggalian ornamen budaya Batak yang diekspresikannya dalam rancangan baru, dan masih terus digali dengan berbagai improvisasi. Secara umum, ciri dan motifnya tidak dirobah.
Merdi menegaskan, dirinya akan tetap mempertahankan eksistensi ulos sebagai tenunan khas Batak yang asli.
Jelajah Ulos tetap dilakukannya. Sharing selalu dilakukan dengan para pemangku kepentingan di berbagai daerah. Kunjungannya ke gedung DPRD Tobasa, direspon positif kalangan anggota Dewan.
Ketua DPRD Tobasa, Sahat Panjaitan memberi apresiasi tinggi atas upaya yang dilakukan Merdi dalam mengangkat “heritage” (warisan) budaya Batak ini. “Jika ulos sampai punah, maka suku Batak akan kehilangan salah satu warisan nenek moyangnya,”kata Sahat.
Politisi PPRN ini berharap, kepedulian kaum muda jangan sampai terkikis, untuk melestarikan nilai budaya, yang sesungguhnya harus dijaga. “Kehadiran para pemerhati yang concern dalam mempertahankan estetika budaya sangat diperlukan,” tambahnya.
Untuk menunjukkan kecintaan terhadap budaya, banyak cara yang bisa dilakukan. Dimulai dari hal yang kecil dan sederhana. “Contohnya, seragam murid SD hingga pakaian dinas kerja aparat Pemkab, kita anjurkan bermotif gorga dan ulos,” ujar Sahat.(*)
Ulos Batak ‘Raja Kain’ Dunia
Diterbitkan pada 16 Agustus 2010 oleh B- Watch

