Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf mengatakan pelaku teroris yang ditembak di Ruko Puri Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten, berkaitan erat dengan aksi mereka di Bumi Tanah Rencong.
“Ini ada kaitan erat dibalik aksi teroris di Aceh, kemudian kabur ke Pamulang setelah dilacak petugas,” kata Irwandi Yusuf di Tangerang, Selasa.
Gubernur Aceh itu langsung datang ke tempat kejadian perkara (TKP) di Ruko Puri Pamulang Blok A-1 nomor 6 Pamulang didampingi Teuku Rafly, mantan suami artis Tamara Bleszesky.
Menurut dia, setelah pengrebekan di Aceh, tim Densus 88 mengendus sepak terjang pelaku yang tertembak petugas dan belakangan diduga Dulmatin.
Dia mengatakan, diduga teroris yang pernah beraksi di Aceh itu berupakan jaringan Asia Tenggara dan provinsi paling utara Pulau Sumatra itu dijadikan basis dan menjaring anggota untuk didik.
Karena di Pulau Jawa bagi para teroris dianggap sudah tidak aman lagi untuk dijadikan tempat untuk melatih anggota baru, kata Irwandi.
Dia membantah bahwa ada anggapan teroris yang tertembak di Pamulang tersebut berupaya untuk berlindung kepada Gerakan Aceh Mardeka (GAM).
Namun Aceh, katanya, dijadikan sebagai sasaran baru untuk tempat mendidik calon teroris agar dapat melakukan aksi selanjutnya.
Meski demikian, Irwandi mengatakan kerja keras polisi untuk mengungkap jaringan teroris di Indonesia dapat diacungkan jempol.
Seorang teroris tertembak oleh Densus 88 Mabes Polri di Ruko Puri Pamulang, Kelurahan Pamulang Selasa siang sekitar pukul 11.30 WIB di warnet Multiplus.
Namun jenazah teroris itu saat ini masih terbaring di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf mengatakan teroris menjadikan Aceh sebagai basis teroris Asia Tenggaran dan hal ini sudah terditeksi sejak satu tahun yang lalu.
“Secara intelegen, sudah terditeksi bahwa mereka akan membangun basis teroris di Asia Tenggara, namun penindakannya baru bisa dilakukan sekarang,” ujar Irwandi dalam konferensi persnya di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa.
Irwandi menjelaskan perekrutan teroris ini bermula pada saat perekrutan pemuda untuk dikirimkan ke jalur Gaza.
Setelah terpilih para pemuda tersebut dibawa ke pulau Jawa untuk diberangkatkan. Namun, karena peristiwa di Gaza sudah selesai maka mereka gagal pergi dan delapan orang dari Aceh justru diambil alih organisasi X dan dilatih kembali di Pulau Jawa.
“Delapan orang dari Aceh diambil alih oleh organisasi X dan dilatih lanjutan di pulau jawa. inilah awalnya pergerakan anggota mereka ke Aceh,” kata Irwandi.
Menurut Irwandi, kegiatan para teroris yang tertangkap tersebut masih pada tahap awal atau latihan dan belum sampai ada bom aksi di Aceh. “Ini masih di tahap awal dan berlatih, seperti berlatih menembak,” tutur Irwandi.
Terkait ditemukannya atribut seragam militer Malaysia dan atribut militer Indonesia, Irwandi mengatakan hal tersebut tidak ada kaitannya dengan militer Malaysia dan Indonesia.
“Motifnya bisa sama, bisa dibeli dimana pun. tapi bukan berarti ada keterlibatan militer Indonesia dan Malaysia,” tutur Irwandi.
Berbagai senjata yang digunakan teroris tersebut bisa masuk ke Indonesia disebabkan masih lemahnya pengawasan di beberapa titik sepanjang pantai Aceh.
“Panjang pantai Aceh ada 18.000 km. Dimana pun ada tiitk lemah, jadi senjata bisa masuk.
Dalam konferensi persnya tersebut, Irwandi juga berkali-kali menegaskan bahwa tertangkapnya jaringan teroris tersebut tidak ada kaitannya dengan Gerakan Aceh Merdeka.
Menurut Irwandi, justru dalam penyergapan ini sejumlah mantan GAM bekerjasama dengan militer Indonesia.
“Ini tidak ada kaitannya dengan GAM sama sekali, justru GAM bekerjasama dengan militer Indonesia dalam menditeksi teroris ini,” kata Irwandi.
Pernyataan tersebut didukung oleh salah satu mantan GAM, Muzakir Manaf yang mengatakan bahwa tidak ada anggota GAM yang terlibat dengan jaringan teroris tersebut.
“Kita sudah konfirmasi ke kecamatan dan wilayah jaringan GAM, hasilnya tidak ada yang terlibat,” kata Muzakir.
Muzakir juga mengatakan pihak GAM akan bekerja sama dengan POLRI dengan memberikan berbagai informasi yang mungkin dibutuhkan.
Menyinggung DOM, Irwandi Yusuf mengatakan pemerintah tidak mungkin menetapkan Provinsi Aceh menjadi Daerah Operasi Militer (DOM) pasca penyerbuan kelompok yang diduga teroris di Pegunungan Jalin, Kecamatan Jantho, Kabupaten Aceh Besar.
“Memang ada korban dari aparat, warga sipil maupun teroris, namun tidak ada kemungkinan Aceh menjadi DOM,” kata Irwandi Yusuf di Jakarta, Selasa.
Irwandi menuturkan pasukan kepolisian juga tidak dikerahkan secara keseluruhan sehingga tidak ada rencana pemerintah untuk menetapkan Aceh sebagai DOM.
“Personil polisi yang turun hanya Brimob dan Densus 88,” ujar Irwandi.
Mantan tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini mengungkapkan belum ada indikasi keterkaitan antara mantan anggota GAM dengan kelompok teroris itu.
Justru mantan anggota itu membantu Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk mengungkap keberadaan teroris itu.
Sebelumnya, Polri menyergap kelompok yang diduga teroris di hutan Jantho, Aceh Besar, namun mereka melarikan diri ke tengah hutan dan perkampungan sekitar.
Sejumlah anggota kelompok itu berhasil ditangkap, satu orang lainya tewas terkena tembakan, sedangkan tiga anggota Polri meninggal dunia ditembak kelompok teroris itu saat penyergapan.
Irwandi menyatakan pihaknya belum mengetahui apakah para anggota teroris itu mendapatkan senjata api dari Jakarta, Mindanao (Filipina) atau daerah lainnya, karena saat ini pihak kepolisian masih menyelidiki.
Pejabat nomor satu di aceh itu menyebutkan dirinya dan pihak kepolisian mencatat beberapa anggota kelompok itu merupakan alumni pemberontak di Mindanao dan sudah mengantongi identitasnya.
“Namun kami tidak bisa menyebutkan identitas maupun inisialnya,” tutur Irwandi.
Sebagaimana diungkapkan Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang, Polri menembak mati satu orang dan menangkap empat tersangka tindak pidana terorisme saat penggerebekan di dua tempat terpisah di Pamulang, Tengerang, Banten, Selasa.
“Tersangka yang tewas tertembak diduga bernama YI alias M, sedangkan tersangka yang tertangkap adalah R, H, BR alias AH, dan SB alias I,” kata Edward Aritonang dalam jumpa pers di Mabes Polri Jakarta.
Selain itu, polisi juga mengamankan satu wanita dan tiga anak karena berada di lokasi kejadian saat penangkapan para tersangka.
Menurut Aritonang, tersangka YI tertembak mati di tempat tinggalnya di Jl Siliwangi No.6, Tengerang, Banten, karena melawan polisi dengan melepaskan tembakan saat hendak ditangkap.
Barang bukti yang berada di tangan YI berupa sepucuk revolver dengan lima peluru yang masih berada di dalamnya.
“Tersangka ini sempat melepaskan satu tembakan ke arah polisi namun tidak mengenai sasaran. Karena itulah, polisi menembak mati YI,” kata Aritonang.
Saat menggeledah tempat tinggalnya itu, polisi menemukan 12 butir peluru dan 1 butir pecahan peluru.
Sedangkan satu wanita dan tiga anak, kata Aritonang, hanya diamankan saja untuk dimintai keterangan apakah mereka mengetahui keberadaan tersangka YI yang tewas itu termasuk aktivitas kesehariannya.
Selain menangkap tersangka di Jl Siliwangi, Polri juga menangkap dua tersangka lain di Jl Setiabudi No.15 Pamulang, Tengerang, yakni R dan H.
Menurut Edward Aritonang, keduanya sedang naik sepeda motor saat tertangkap dan melawan polisi yang hendak menangkapnya. Akibatnya, polisi menembak kedua tersangka itu hingga mengalami luka, namun tidak meninggal dunia.
Baik tersangka yang meninggal maupun yang mengalami luka-luka telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.
Beberapa saat setelah penangkapan R dan H, polisi dapat menangkap dua tersangka lain yakni BT dan SB yang berada tidak jauh dari Jl. Setiabudi No.15.
Aritonang mengatakan, para tersangka terorisme ini diduga menjadi pemasok senjata dan penyandang dana kelompok terorisme yang ada di Kabupaten Aceh Besar.
Menurut dia, penangkapan para tersangka Pamulang itu merupakan hasil identifikasi analisa barang bukti dan keterangan para tersangka yang telah tertangkap sebelumnya.
“Para tersangka terorisme di Aceh kan sudah berada di Jakarta dan dari keterangan mereka mengarah adanya kelompok pemasok senjata dan penyandang dana,” ujarnya.
Ia menegaskan, jaringan terorisme di Aceh maupun yang berada di Pamulang, tidak terkait dengan kelompok Gerakan Aceh Merdeka dan melibatkan mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka.
Bahkan, lanjutnya, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf saat bertemu dengan Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri pada Senin (7/3) di Jakarta, telah menyatakan dukungan pada Polri untuk menangkap para tersangka terorisme yang ada di Aceh.
Sebelumnya, Polri juga telah menangkap dua tersangka kasus terorisme di Aceh yang juga berperan sebagai pemasok senjata. Kedua tersangka ini tertangkap di Jawa Barat dan Jakarta, pada Minggu (6/3).
Selain itu, Polri juga menangkap 14 tersangka terorisme di Aceh Besar. Sedangkan tiga tersangka lain tewas tertembak saat penangkapan di hutan dan pemukiman sekitar hutan di Kabupaten Aceh Besar.(*)

