“Prince of Wales” atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Charles menyatakan, Kemitraan REDD yang diadopsi oleh sedikitnya 50 negara dalam Konferensi Iklim dan Kehutanan Oslo 2010 merupakan komitmen vital untuk menyelamatkan hutan hujan tropis dunia.
“Saya kira ini adalah pernyataan vital untuk menyelamatkan hutan hujan tropis dunia dan masa depan bersama,” kata Pangeran Charles dalam Konferensi Iklim dan Kehutanan di Oslo, Norwegia, Kamis pagi waktu setempat.
Pada pertemuan itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertindak selaku pimpinan bersama PM Norwegia Jens Stoltenberg..
Charles menyambut baik kesepakatan REDD tersebut karena merupakan bukti bahwa sejumlah negara tetap memegang teguh komitmennya dalam mengatasi perubahan iklim.
Ia juga menyebut kesepakatan yang ditandatangani antara Pemerintah Indonesia dan Norwegia Rabu (26/5) merupakan suatu terobosan bagi program tersebut.
Namun putra mahkota Kerajaan Inggris itu mengingatkan bahwa keadilan tetap harus diperhatikan dalam melaksanakan mekanisme itu terutama yang terkait dengan pertanian.
Pada kesempatan itu Charles juga mengemukakan kekagumannya atas komitmen negara yang tergabung dalam Kemitraan REDD karena dapat menyetujui sebuah kerangka kerja yang didasarkan atas sistem pembayaran berdasarkan hasil
Pangeran Charles beberapa waktu terakhir terlibat dalam berbagai aktivitas penyelamatan lingkungan.
Ia sempat menyinggung tentang pentingnya pelestarian alam termasuk menjaga keberadaan dan luas hutan tropis serta mengajak semua pihak untuk terlibat aktif saat memberikan “kuliah kepresidenan” di Istana Negara di sela lawatannya ke Indonesis pada November 2008.
Mantan suami dari mendiang Lady Diana itu bahkan menegaskan bahwa pengelolaan alam diamanatkan oleh seluruh agama.
Dalam lawatannya ke Indonesia, ia juga berkunjung ke Jambi dan memberikan bantuan untuk program konservasi hutan.
Ia juga memanfaatkan momentum berkumpulnya para pemimpin negara kelompok G20 di London, April 2009, untuk melontarkan ide penggalangan dana demi keselamatan hutan dunia.
Pangeran Charles mengundang kepala negara dan pemerintahan kelompok G20 menghadiri pertemuan selama 40 menit di Clarence House, London, itu.
Salah satu agenda yang diusung Inggris sebagai tuan rumah pertemuan G20 2009 adalah mewujudkan pembangunan yang beremisi karbon rendah sebagai satu paket dari agenda jangka panjang pembangunan kembali perekonomian dunia.
Negara yang mengadopsi Kemitraan REDD pada Konferensi Iklim dan Kehutanan Oslo adalah Angola, Argentina, Australia, Belgia, Brasil, Burundi, Kamboja, Kamerun, Kanada, Republik Afrika Tengah, China, Kolombia, Chad, Kosta Rica, Republik Demokratik Kongo, Denmark, Republik Dominika, Finlandia, Perancis, Gabon, Jerman, Ghana, Guyana, India, Indonesia, Italia, Jepang, Kenya. Laos, Malaysia, Mali dan Meksiko.
Selanjutnya Nepal, Belanda, Nigeria, Norwegia, Panama, Papua Nugini, Peru, Filipina, Republik Kongo, Rusia, Rwanda, Singapura, Slovenia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Spanyol, Swedia, Swis, Thailand, Togo, Uganda, Inggris, Amerika Serikat, dan Vietnam.(*)

