www.bumnwatch.com – Presiden Iran Kamis mengatakan Teheran bersedia berunding dengan negara-negara dunia mengenai program nuklirnya sementara mengabaikan dampak dari sanksi-sanksi baru yang diberlakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Republik Islam, yang telah dikenakan empat babak sanksi PBB itu membantah keras program nuklirnya bertujuan untuk membuat senjata-senjata atom seperti yang dituduhkan Barat, dan menegaskan program itu hanya untuk keperluan sipil.
“Mereka beralasan bahwa Iran mengelak berunding tetapi itu sama sekali tidak benar,” kata pemimpin Iran itu yang dikutip media pemerintah. “Seorang yang logis dan memiliki hak, mengapa (ia) harus takut untuk berunding?” Ia menanggapi secara tegas komentar-komentar para pejabat Barat yang mendesak republik Islam itu kembali ke perundingan menyangkut program nuklinya yang kontroversial itu.
Babak terakhir perundingan antara Iran dan negara-negara besar yaitu Inggris, China, Perancis, Jerman, Rusia dan Amerika Serikat diselenggarakan di Turki Januari 2011, tetapi perundingan-perundingan itu gagal.
Ketua kebijakan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton Selasa mengatakan: “Sikap Uni Eropa satu mengirim pesan tegas kepada pemerintah Iran: bahwa kami ingin kembali ke meja perundingan, mengundang mereka membahas masalah-masalah yang belum tuntas dalam perundingan di Istambul setahun lalu.” Enam negara itu masih menunggu jawaban Iran atas sepucuk surat Ashton yang dikirim Oktober lalu, yang menegaskan bahwa perundingan-perundingan harus dipusatkan pada “masalah penting” soal nuklir Iran, untuk menyingkirkan keraguan.
AS menolak secara langsung menanggapi komentar Ahmadinejad Kamis itu, dengan mengatakan kecuali Teheran menjawab secara resmi surat Ashton.
“Sikap kami adalah tetap bahwa pemeritnah Iran harus menaati kewajiban-kewajibannya pada masyaraat internasional,” kata juru bicara Gedung Putih Jay Carney kepada wartawan di pesawat kepresidenan.
Di Washington, juru bicara Depertemen Luar Negeri AS Victoria Nuland mengatakan surat itu “tawaran yang sangat khusus bagi perundingan jika Iran bersedia menjelaskan dengan terus terang berkaitan dengan program nuklirnya”.
Beberapa pejabat Iran secara terbuka mengatakan bahwa Teheran siap memulai kembali perudingan, tetapi tanpa menyebut secara khusus isi perundingan-perundingan itu, dan belum secara resmi menanggapi surat Ashton.
“Iran bersedia berunding yang didasarkan ada saling menghormati,” kata Menlu Iran Ali Akbar Salehi, Rabu.
Ia mengatakan ia akan menyampaikan tanggapan dari perunding penting nuklir Saeed Jalili,” mengenai tanggal dan tempat perundingan,” kepada sejawat Turkinya Ahmet Davutoglu, yang bertindak sebagai penengah, untuk disampaikan kepada Ashton.
Uni Eropa, Senin memberlakukan satu embargo pada impor minyak Iran sementara Barat meningkatkan tekanan pada negara itu.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi, Ahmadinejad mengenyampingkan dampak dari sanksi-sanksi yang baru diberlakukan itu, dengan mengatakan tindakan itu tidak akan menggangu negaranya.
“Perdagangan kita dengan Eropa pernah mencapai sekitar 90 persen tetapi kini hanya 10 persen dan kita tidak mengusahakan 10 persen ini… Pengalaman menunjukkan bahwa negara Iran tidak akan terganggu,” kata Ahmadinejad dalam kunjungan ke Provinsi Kerman.
“Selama 30 tahun belakangan ini, AS tidak membeli minyak dari kita. Bank sentral kita tidak punya hubungan dengan anda.” Media Iran melaporkan bahwa parlemen akan membahas satu rancangan undang-undang pekan depan untuk melarang ekspor minyak ke Eropa setelah keputusan kelompok itu memberlakukan embargo.
Para menlu Uni Eropa setuju bagi satu larangan segera impor minyak dan kontrak-kontrak yang ada dibatalkan sampai pada 1 Juli. Mereka juga membekukan aset-aset bank sentral Iran sementara menjamin perdagangan berdasarkan syarat-sayarat yang ketat.
Blok itu mengimpor sekitar 600.000 barel per hari minyak Iran dalam 10 bulan pertama tahun lalu , menjadikan kelompok itu satu pasar penting disamping China, yang menolak tunduk pada desakan Washington untuk mengurangi pendapatan Iran dari hasil ekspor minyak.
Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad Kamis mengatakan Iran tidak perlu menjual minyaknya ke negara-negara Eropa, kata kantor berita semi-resmi Mehr.
Uni Eropa pada Senin mengenakan sanksi lebih lanjut terhadap ekspor minyak Iran serta bank sentralnya, satu langkah yang bertujuan untuk meningkatkan tekanan atas program nuklir negara itu.
Sanksi-sanksi tidak bisa menghentikan kemajuan Iran, kata Ahmadinejad ketika berpidato di depan sekelompok orang di kota Kerman tenggara.
Dia menambahkan bahwa “Kami tidak perlu menjual minyak ke Eropa.” Anggota parlemen Iran Nasser Soudani Rabu mengatakan bahwa dalam langkah pencegahan, parlemen Iran merenungkan rencana untuk mengurangi ekspor minyak ke negara-negara anggota Uni Eropa.
“Para wakil rakyat di Majlis (parlemen) berupaya untuk menyetujui rencana, yaitu semua negara Eropa yang telah memberlakukan sanksi terhadap Iran tidak akan mampu membeli bahkan setetes minyak dari Iran,” kata Soudani, anggota Majlis Iran dari Komisi Energi.
Pada Kamis, Ahmadinejad juga menyepelekan sanksi pemerintah Barat kepada Bank Sentral Iran sebagai “upaya sia-sia,” kata kantor berita resmi IRNA.
Dia mengatakan bahwa sanksi pada Bank Sentral Iran tidak akan bekerja dan pada kenyataannya prakarsa seperti itu tidak berguna, kata laporan IRNA.
Tentang merusak efek sanksi Uni Eropa terhadap Iran, ia mengatakan bahwa total perdagangan luar negeri Iran mencapai 200 miliar dolar AS, dan hanya 24 miliar dolar yang dengan negara-negara Eropa.
“Di masa lalu, sekitar 90 persen perdagangan Iran adalah dengan Eropa, namun saat ini adalah sekitar 10 persen,” katanya seperti dikutip media itu.
Uni Eropa saat ini membeli hampir 20 persen dari ekspor minyak mentah Iran, dengan negara-negara seperti Yunani dan Italia yang paling bergantung pada minyak Iran.
Negara-negara Teluk Persia seperti Arab Saudi telah menawarkan untuk meningkatkan produksinya sendiri untuk mengkompensasi kekurangan yang disebabkan oleh larangan minyak Iran.
Para pejabat Iran telah mengancam untuk menutup Selat strategis Hormuz jika ekspor minyak mereka dikenai sanksi.
Republik Islam sangat bergantung pada ekspor minyak mentah dan produk-produknya untuk pendapatan tahunannya. (Xinhua-0ANA/AFP/*)

