Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan uang duka kepada keluarga Joni Malela, warga yang tewas terinjak kerumunan yang ingin bersilaturahmi Lebaran dengan Presiden.
Kepala Biro Pers dan Media Istana Kepresidenan, D.J. Nacrowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, mengatakan Presiden Yudhoyono sangat terkejut setelah mendengar ada warga yang meninggal terinjak-injak kerumunan ketika ingin bersalaman dengannya.
“Bapak Presiden sangat terkejut dan juga sangat prihatin karena masalah itu,” ujarnya.
Untuk menunjukkan keprihatinan, kata Nacrowi, Kepala Negara memberika uang duka senilai Rp10 juta yang diberikan kepada Euis, istri Joni, yang sekarang berada di Kepolisian Sektor Gambir, Jakarta Pusat, untuk dimintai keterangan.
“Sekarang petugas istana sedang menuju ke polsek untuk memberikan uang duka Rp10 juta cukuplah untuk membantu yang bersangkutan dalam rangka musibah,” tuturnya.
Nacrowi menjelaskan Presiden menerima sekitar 3.500 warga yang ingin bersilaturahmi sejak pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.30 WIB.
Tidak semua warga yang mengantre sejak pagi bisa bersalaman dengan Presiden. Petugas membatasi masyarakat yang bisa masuk sehingga masih ada sekitar seribu warga yang gagal bersilaturahmi dengan Kepala Negara.
Usai menggelar silaturahmi terbuka dengan masyarakat, Presiden Yudhoyono pada Jumat sore langsung pulang ke kediaman pribadi di Puri Cikeas Indah, Kabupaten Bogor.
Pihak Istana Kepresidenan sedang menelusuri penyebab kematian Joni Malela (45 tahun), warga Cinangka, Kabupaten Bogor, yang meninggal dunia karena terinjak-injak kerumunan masyarakat yang ingin bersilaturahmi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat mengatakan, pihaknya sedang berkoordinasi dengan kepolisian sektor (Polsek) setempat.
“Saya sedang berkoordinasi, minta Polsek memastikan korban tewas itu. Tapi yang jelas itu `kan kerumunan dari pengunjung berdesakan di luar, bukan karena tindakan atau kekerasan yang dilakukan oleh petugas,” katanya.
Julian menjelaskan, ia sempat memeriksa apakah petugas di lapangan bertindak di luar prosedur.
Namun, ia memastikan semua petugas berada di dalam halaman Gedung Sekretariat Negara sedangkan masyarakat yang saling mendorong berada di luar.
“Ini yang kita imbau agar mereka bisa menahan diri. Jangan sampai terjadi aksi saling dorong dan tidak berusaha memaksakan diri untuk masuk ke dalam,” ujar Julian.
Julian mengatakan bahwa Presiden menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas kejadian tersebut.
Joni Malela berusia 45 tahun menghembuskan nafas terakhir di mobil ambulance setelah lama terdorong-dorong di depan pintu pagar Gedung Sekretariat Negara, Jalan Majapahit.
Menurut keterangan saksi mata, Joni sempat ingin mundur dari kerumunan namun tetap terdorong ke depan hingga akhirnya terinjak-injak.
Petugas Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang bertugas di depan Gedung Sekretariat Negara, Theresia Indah Susanti, menjelaskan kondisi Joni sudah lemas ketika dibawa ke ambulance dan hanya mendapatkan perawatan selama 10 menit sebelum akhirnya meninggal dunia.
“Sempat diberi oksigen namun tidak bereaksi akhirnya meninggal dunia,” ujar Theresia.
Menurut Theresia, Joni meninggal tanpa ada luka-luka sehingga disimpulkan meninggal dunia karena kehabisan nafas akibat terinjak-injak.
Jenazah Joni, penyandang tuna netra warga Cinangka, Kabupaten Bogor, akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat.
Aksi dorong-dorongan ribuan warga terjadi di depan pintu pagar Sekretariat Negara sebelum dibuka pada pukul 14.00 WIB.
Belasan warga pun sempat pingsan karena tergencet di celah pintu pagar yang hanya dibuka sedikit.
Beberapa warga mengaku antusias datang bersilaturahmi dengan Presiden Yudhoyono karena mendengar informasi mendapakan uang Rp300 ribu rupiah.
Julian membantah informasi tersebut berasal dari lingkungan Istana Kepresidenan.
Namun, ternyata pihak Istana membekali uang transport sebesar Rp100 ribu kepada penyandang cacat yang telah bersilaturahmi kepada Presiden Yudhoyono.
Pintu keluar untuk para penyandang cacat dipisahkan dari warga biasa dan mereka mendapatkan amplop uang transport selain bingkisan kue dan air mineral.
Menurut pegawai yang menyerahkan amplop tersebut, pimpinannya memberikan arahan agar uang transport hanya diberikan kepada penyandang cacat.
Sedangkan warga biasa yang sehat jasmani hanya mendapatkan bingkisan kue dan air mineral.(*)

