Bank Indonesia (BI) mencatat perkembangan pinjaman luar negeri swasta meningkat sejalan dengan menggeliatnya perekonomian terutama untuk bidang industri pengolahan, keuangan, persewaan dan jasa keuangan, pertambangan penggalian serta listrik, gas dan air bersih.
Kepala Biro Humas Bank Indonesia Difi A Johansyah di Jakarta, Selasa mengatakan pinjaman luar negeri swasta pada Mei 2010 tercatat sebesar 69,9 miliar dolar AS meningkat dibanding Mei 2009 sebesar 59,6 miliar dolar AS.
Menurutnya, mayoritas pinjaman terserap di industri pengolahan (27,2 persen) diikuti keuangan, persewaan dan jasa keuangan (17,9 persen) pertambangan penggalian (16,7 persen) serta listrik, gas dan air bersih (15,7 persen).
“Per akhir Mei 2010 rata-rata pertumbuhan empat sektor tersebut pada 2010 sebesar 12,9 persen, lebih tinggi dibandingkan rata rata pertumbuhan keempatnya pada 2009 sebesar 8,2 persen,” kata Difi.
Pinjaman untuk industri pengolahan lanjut Difi, terutama ditujukan untuk investasi (50 persen), sementara sisanya untuk modal kerja dan refinancing. Sedangkan pinjaman untuk listrik terutama digunakan bagi pendanaan proyek listrik 10.000 MW.
Pinjaman pertambangan terutama untuk penerbitan global bond dan penarikan loan agreement sejalan dengan tingginya permintaan dari Cina dan India khususnya batubara. Semetnara pinjaman untuk sektor keuangan yang relatif signifikan selama 2010 sejalan dengan meningkatnya transaksi dagang dan impor melalui perbankan.
Difi juga menyampaikan bahwa pada 9 Juli lalu, Japan Credit Rating Agency (JCRA) menaikkan tingkat pinjaman mata uang asing jangka panjang (sovereign long term foreign currency) Indonesia dari BB+ menjadi BBB- dan pinjaman mata uang lokal jangka panjang Indonesia dari BBB- menjadi BBB dengan outlook “stable” untuk keduanya.(*)
Pinjaman LN Swasta Meningkat
Diterbitkan pada 13 Juli 2010 oleh B- Watch

