Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada Selasa menurunkan bendera 192 negara anggotanya dan hanya mengibarkan Bendera PBB setengah tiang sebagai ungkapan duka cita terhadap tewasnya ratusan ribu orang –termasuk 49 personil PBB, karena gempa bumi di Haiti pada Selasa (12/1) lalu.
Untuk mengenang para korban, maka sebuah upacara juga dilaksanakan di kompleks Markas Besar pada Selasa sore dengan dihadiri oleh Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon.
Upacara tersebut antara lain diisi dengan peletakan karangan bunga, pengheningan cipta, serta pelantunan lagu khidmat oleh paduan suara staf PBB.
Bertempat di lobi gedung Majelis Umum PBB di dekat Meditation Room, Sekjen Ban Ki-moon tepat pada pukul 16.53 waktu setempat memimpin upacara peletakan karangan bunga.
Pukul 16.53 adalah saat-saat gempa bumi hebat dengan kekuatan 7 Skala Richter mengguncang Haiti –tepat satu minggu lalu– hingga memporakporandakan ibukota Haiti, Port au Prince.
Sekjen PBB maju ke depan dan membungkuk memberi penghormatan ketika karangan bunga berwarna putih itu diletakkan di bawah bendera PBB.
Peletakan karangan bunga diikuti dengan acara mengheningkan cipta yang dihadiri oleh para pejabat dan PBB serta para pejabat tinggi perwakilan negara-negara anggota PBB.
PBB, organisasi dunia yang dibentuk tahun 1945, saat ini beranggotakan 192 negara, termasuk Indonesia.
Usai upacara peletakan bunga di lobi gedung Majelis Umum, para hadirin berjalan pelan ke luar gedung.
Tepat di luar gedung di depan Visitor`s Entrance –salah satu pintu masuk menuju kompleks Markas Besar PBB, mereka satu persatu mengambil lilin yang telah dinyalakan.
Sambil memegang lilin dan diwarnai dengan lantunan lagu-lagu sendu oleh paduan suara staf PBB, mereka kembali mengheningkan cipta.
Sepanjang sejarah PBB, gempa Haiti adalah insiden terparah dunia yang menjatuhkan korban dari pihak PBB.
Hingga hari ketujuh setelah gempa di Haiti, setidaknya sudah 49 personil PBB yang ditemukan tewas sementara ratusan lainnya masih belum ditemukan.
Kebanyakan personil tewas karena terkubur di bawah gedung markas Misi Stabilisasi PBB di Haiti (MINUSTAH).
Tak lama setelah gempa mengguncang, gedung markas yang berada di Hotel Christopher di Port Au Prince itu rubuh –sementara ratusan anggota staf PBB masih berada di dalamnya.
Di antara korban tewas yang ditemukan dari reruntuhan markas MINUSTAH itu adalah pemimpin MINUSTAH Hedi Annabi dan wakilnya Luiz Carlos da Costa serta Komisiris Polisi ad interim Doug Coates.
Dua warga negara Indonesia yang bekerja sebagai relawan MINUSTAH dan pada saat gempa Selasa lalu juga sedang berada di gedung markas itu, berhasil menyelamatkan diri. (*)
PBB Turunkan Bendera Setengah Tiang
Diterbitkan pada 20 Januari 2010 oleh B- Watch

