Panitia Khusus (Pansus)Angket Skandal Bank Century DPR masih akan memfokuskan pemeriksaan terhadap pejabat dan mantan pejabat Bank Indonesia (BI) untuk memperoleh keterangan seputar merger Bank Century dan pencairan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP).
Anggota Panitia Angket Kasus Bank Century DPR Maruarar Sirait mengatakan, Panitia Angket akan meminta keterangan dari tujuh orang pejabat dan mantan pejabat BI pada rapat Panitia Angket, Selasa (5/1) hingga Kamis (7/1).
“Panitia Angket Kasus Bank Century perlu melakukan pendalaman kepada pejabat dan mantan pejabat BI untuk mengklarifikasi keterangan yang telah diberikan oleh mantan pejabat BI yang telah diperiksa sebelumnya,” kata Maruarar Sirait melalui layanan pesan singkat (SMS), Sabtu.
Dikatakannya, ketujuh pejabat dan mantan pejabat BI yang akan dimintai keterangan adalah, pada Selasa (7/1) mantan Gubernur BI Aulia Pohan dan mantan Direktur Pengawasan BI Sabar Anton Tarihoran.
Kemudian pada Rabu (8/1), adalah mantan Deputi Gubernur BI Maman H Soemantri dan Maulana Ibrahim serta mantan Kepala Biro Gubernur BI Rusli Simanjuntak.
Sedangkan pada Kamis (9/1), Panitia Angket akan meminta keterangan Deputi Gubernur BI Budi Mulya dan mantan Direktur Pengawasan BI Zainal Abidin.
Menurut Maruarar, keterangan dari pejabat dan mantan pejabat BI ini diperlukan untuk mendalami persoalan sekaligus mengklarifikasi keterangan yang telah diberikan pejabat dan mantan pejabat BI sebelumnya.
Sebelumnya, pada Senin (21/12), Panitia Angket telah meminta keterangan mantan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah serta mantan Deputi Gubernur BI Anwar Nasution dan Miranda Goeltom.
Kemudian pada Selasa (22/12), Panitia Angket juga telah meminta keterangan pada mantan Gubernur BI Boediono, mantan Deputi Gubernur BI Miranda S Goetom, serta Deputi Gubernur BI S Budi Rochadi.
Ketika dimintai keterangan, Burhanuddin Abdullah beberapa kali menyebut-nyebut nama Direktur Pengawasan Sabar Anton Tarihoran.
Demikian juga Boediono ketika dimintai keterangan beberapa kali menyebut-nyebut nama Direktur Pengawasan Siti CH Fajriyah. Namun Siti CH Fajriyah belum bisa dihadirkan, karena masih kondisi sakit.
Menurut mantan Ketua MPR RI Prof Dr Amien Rais, dugaan korupsi senilai Rp6,7 triliun yang dikucurkan untuk menyehatkan Bank Century merupakan pertaruhan terakhir bagi bangsa Indonesia.
“Apalagi kalau kasus ini tidak sampai tuntas secara hukum, itu sama saja dengan lari di tempat. Kondisi ini akan menambah frustasi anak-anak bangsa karena carut-marutnya penanganan korupsi yang tidak serius,” tegas Amien usai memberikan kuliah tamu dalam rangka penutupan “student day” di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu.
Oleh karena itu, lanjutnya, semua elemen bangsa yang terkait seperti panitia hak angket DPR RI, kepolisian, kejaksaan termasuk media harus terus memburu penuntasan kasus Bank Century tersebut.
Bagi pihak-pihak terkait yang nama baiknya merasa dicemarkan akibat kasus korupsi Bank Century itu, katanya, juga harus dibersihkan (dipulihkan) dan sebaliknya, siapa-siapa yang ikut terlibat juga harus diadili secara hukum yang berlaku.
Ia menengarai, di Indonesia ada indikasi kasus korupsi yang besar-besar “ditenggelamkan”, tapi kasus yang kecil-kecil diungkap secara terus menerus. Padahal, upaya itu hanya untuk menghibur rakyat agar tidak terlalu kecewa dengan upaya pemerintah dalam memberantas korupsi.
“Kalau kasus Bank Century tersebut tidak selesai, siapa yang salah. Kepolisian, jaksa atau aparat penegak hukum lainnya ?,” tanya mantan Ketua DPP PAN itu
Yang pasti, tegasnya, kalau kasus Bank Century yang menghamburkan uang rakyat trliunan rupiah itu tidak selesai dan menguap begitu saja, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang pendosa.
Padahal, kata Amin, saat ini bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia lainnya tengah menghadapi lima macam krisis global. Namun, kenapa para pemimpin dan segenap anak bangsa masih belum juga sadar terutama dalam pemberantasan kasus korupsi.
Lima krisis global yang dihadapi dunia saat ini adalah pertambahan penduduk dunia yang terus melonjak. Hasil survei dan hitungan PBB, diperkirakan setiap tahun ada pertambahan penduduk dunia sekitar 158 juta.
Krisis kedua adalah kekurangan pangan di mana-mana, krisis energi akibat tingginya konsumsi yang tidak sebanding dengan suplai (produksi), krisis ekologi yang diperkirakan 20 tahun ke depan sebagian dunia akan tenggelam akibat lelehan gunung es yang ada di kutub utara dan selatan.
Sedangkan krisis yang kelima adalah krisis peradaban yang ditandai dengan semakin rendahnya harga nyawa manusia, kehancuran akhlak manusia serta baik dan buruk yang sudah dicampuradukkan.
Untuk meminimalkan kejadian-kejadian yang mengerikan itu, kata Amien, sudah seharusnya semua pihak melakukan rekonstruksi mental mulai dari pucuk piramida (pimpinan).
“Sampai sekarang kita ini masih terbelenggu dengan feodalisme yang menjadikan pimpinan sebagai panutan sehingga kalau pimpinannya baik generasi mudanya Insyaallah pasti baik,” tambahnya.(*)

