Pemerintah Malaysia menyatakan tetap menyambut baik kehadiran para tenaga kerja Indonesia dan akan melanjutkan upaya perlindungan terhadap mereka terutama bagi yang telah memenuhi prosedur hukum atau TKI yang legal.
“Dari segi kepentingan para pekerja Indonesia, kami berharap bahwa mereka yang masuk ke Malaysia dapat menjadi pekerja-pekerja yang sah, sehingga hak mereka lebih mudah dijamin bila kemudian dieksploitasi oleh orang yang tidak bertanggung jawab,” kata Perdana Menteri Malaysia Datok Sri Mohammad Najib bin Tun Abdul Razak dalam jumpa pers bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai pertemuan bilateral kedua negara yang berlangsung di Kantor Perdana Menteri Malaysia di Putra Jaya, Kamis.
Menurut PM Najib, Pemerintah Malaysia akan mengusahakan terwujudnya keadilan termasuk terhadap rakyat Malaysia yang melakukan tindak kekerasan kepada pekerja Indonesia.
“Kami akan lakukan keadilan, termasuk pada rakyat Malaysia yang melakukan kekasaran terhadap rakyat Indonesia yang bekerja di sini. Mereka akan diambil tindakan berikut UU negara di mana yang terbukti,” katanya.
Sementara Presiden Yudhoyono menyatakan akan terus memperbaiki sistem dan mekanisme pengiriman TKI ke luar negeri khususnya Malaysia, termasuk soal perlindungan hak dan bantuan hukum yang mesti diberikan.
“Saya menghargai penjelasan dari PM Malaysia, karena ini merupakan penekanan kembali. Jika ada masalah hukum yang berkaitan dengan TKI, maka hukum ditegakkan. Siapapun yang bersalah, tentu mendapatkan sanksi. Kalau dilakukan dengan transparan, maka akan mengurangi kesalahpahaman,” katanya.
Dikatakan Presiden, Pemerintah Indonesia sangat peduli untuk memberikan bantunan hukum kepada para TKI, meskipun tetap tunduk kepada hukum di Malaysia sebagaimana pula kalau ada WNA melakukan kesalahan hukum di Indonesia.
“Kita melakukan perbaikan proteksi, perlindungan, gaji dan sebagainya. Perkembangan tahun demi tahun semakin positif. Kita berkomitmen untuk mengelolanya dengan baik,” katanya.
Pelayanan terhadap TKI, lanjut Presiden telah ditetapkan untuk terus ditingkatkan bahkan sudah menjadi program prioritas pemeritah dalam 100 hari ke depan. Tidak saja untuk TKI di Malaysia, tetapi juga di semua negara.
“Di negara lain juga akan ada kompleksitas tersendiri. Kami akan terus lakukan pembenahan dan dalam program 100 hari kami, peningkatan pelayanan tenaga kerja merupakan agenda yang akan kami jalankan,” katanya.
Presiden menyatakan perlakuan pemerintah dan rakyat Malaysia terhadap TKI sudah meningkat cukup baik, seperti adanya perlindungan masalah hukum, dan ini akan terus ditingkatkan terutama dalam kecepatan menangani timbulnya masalah-masalah baru.
“Saya melihat progres yang cukup signifikan, yang berbeda dengan pengalaman kita di waktu yang lalu. Bagi saya, ini suatu capaian dan saya harus katakan terima kasih, meskipun akan selalu ada kasus-kasus itu dan kita pelihara hubungan cepat, sehingga apabila ada kasus segera ditangani seksama. Dengan demikian, tidak ada isu baru, atau disalahartikan, seolah-olah tidak ada tindakan yang tepat dan adil untuk para TKI,” katanya.
Sebelum melakukan pertemuan bilateral, kedua kepala pemerintahan melakukan pertemuan empat mata yang dilanjutkan dengan menerima masing-masing pengurus Eminent Person Group (EPG) dari kedua negara.
Sejumlah menteri ikut dalam pertemuan bilateral itu, antara lain Mensesneg Sudi Silalahi, Menprin MS Hidayat, Menbudpar Jero Wacik, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Menlu Marty Natalegawa, Menegpora Andi Malarangeng, Menakertrans Muhaimin Iskandar dan Kepala BKPM Gita Wirjawan.
Dari serangkaian pertemuan diputuskan pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat untuk terus memperkuat hubungan persahabatan dan kerja sama yang telah berjalan baik diantara kedua negara selama ini dan tidak memperbesar persoalan kecil yang terjadi belakangan ini.
“Kami menyatakan kedua negara bersepakat untuk terus memantapkan hubungan antarkedua negara supaya hubungan ini tidak pasang surut, tetapi sebaliknya dapat ditingkatkan pada tahap yang sebaik mungkin dan ini juga merupakan keadaan yang sebenarnya walaupun ada beberapa masalah, tetapi bersifat kecil, dan berlaku dalam kelompok yang kecil juga. Serta tidak seharusnya menutup segala kebaikan yang terlalu besar yang telah dilakukan oleh kedua belah pihak selama ini,” kata PM Najib dalam jumpa pers bersama Presiden Yudhoyono usai pertemuan bilateral itu.
Najib mengusulkan, untuk terus meningkatkan hubungan tradisional kedua negara seperti kunjungan antara pemimpin, serta hubungan antara institusi umpamanya hubungan media Indonesia dan Malaysia, parlemen dengan parlemen, serta hubungan antar parpol dan LSM di kedua negara.
“Saya juga setuju dengan saran Presiden Yudhoyono supaya kaum muda diberikan porsi khusus dalam hubungan kedua negara,” katanya.
Sementara itu, Presiden Yudhoyono mengatakan kunjungan kenegaraan yang pertama dilakukannya setelah menjadi presiden untuk kedua kalinya ini ditujukan untuk mempererat tali persahabatan dan persaudaraan di antara kedua bangsa yang memiliki akar kesejarahan, budaya dan peradaban.
“Kami ingin ini tetap dapat dijaga dengan sebaik-baiknya. Kalau ada masalah segera bisa kita atasi secara bijak dan tepat. Dengan demikian kebaikan yang banyak, kerja sama positif yang tidak sedikit selama ini tidak tertutup oleh satu, dua isu yang berkaitan dengan itu,” katanya.
Dijelaskan Presiden, bahwa dengan jutaan warga negara Indonesia yang ada di Malaysia serta puluhan ribu warga Malaysia di Indonesia pasti bisa menimbulkan perbedaan pandangan dan gesekan.
“Tetangga dekat sekali-kali terjadi seperti itu, tugas kami adalah mengelolanya dengan bijak, dengan arif dan jangan sampai membesar, melebar dan mengganggu apa yang kita kerjakan selama ini,” katanya.
PM Najib mengatakan pembicaraan dengan Presiden Yudhoyono berjalan sangat baik, produktif dan bermanfaat.
“Oleh karena itu, saya anggap lawatan ini sebagai lawatan bermakna dan memberi isyarat yang positif kepada kedua negara terutama dalam konteks hubungan kedua negara dan antar masyarakat,” katanya.
Sebelum melakukan pertemuan bilateral, kedua kepala pemerintahan melakukan pertemuan empat mata yang dilanjutkan dengan menerima masing-masing pengurus Eminent Person Group (EPG) dari kedua negara.
Sejumlah menteri ikut dalam pertemuan bilateral itu antara lain Mensesneg Sudi Silalahi, Menprin MS Hidayat, Menbudpar Jero Wacik, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Menlu Marty Natalegawa, Menegpora Andi Malarangeng, Menakertrans Muhaimin Iskandar dan Kepala BKPM Gita Wirjawan.(*)

