Mayoritas mahasiswa FISIP Universitas Indonesia yang mengikuti survei tentang pengetahuan dan persepsi mereka terhadap komunitas Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara menganggap Malaysia sebagai “ancaman keamanan utama” Indonesia.
Dari 250 mahasiswa berusia 17-23 tahun yang mengikuti survei diselenggarakan dosen senior FISIP UI, Edy Prasetyono,PhD pada Februari dan Maret 2010, sebanyak 120 orang atau 48 persen memilih Malaysia menjadi ancaman keamanan utama Indonesia.
Hasil survei diungkapkan Edy Prasetyono yang juga Wakil Dekan FISIP Universitas Indonesia (UI) dalam seminar tentang “Pengetahuan dan Persepsi Mahasiswa terhadap Komunitas ASEAN 2015″ di kampus UI Depok, Senin.
Selain Malaysia, empat negara lainnya yang dipersepsi mahasiswa FISIP UI sebagai ancaman keamanan utama bagi Indonesia adalah Amerika Serikat (27,6 persen), China (12 persen), Australia dan Singapura (masing-masing 3,6 persen).
Sebanyak 69,6 persen responden survei itu juga menilai Malaysia sebagai pesaing Indonesia di era globalisasi di samping China.
Hasil survei itu menegaskan bahwa Malaysia dipandang banyak responden sebagai negara yang “harus diantisipasi Indonesia” dalam konteks persaingan global, kata Edy Prasetyono dalam seminar yang juga menghadirkan Peneliti Lembaga Studi Strategis Indonesia Bantarto Bandoro,MA itu.
Selain itu Malaysia termasuk salah satu dari sepuluh negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang paling dikenal mayoritas mahasiswa FISIP UI.
ASEAN beranggotakan Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Singapura, Myanmar, Vietnam, Kamboja, dan Laos.
Sebanyak 95,6 persen responden menempatkan Malaysia sebagai negara anggota ASEAN yang paling dikenal disusul Singapura (93,2 persen) dan Thailand (51,6 persen), kata Prasetyono.
Dari hasil survei tersebut diketahui bahwa pengetahuan kalangan mahasiswa FISIP UI tentang ASEAN “relatif memadai” terbukti dari kemampuan mereka mengidentifikasi bendera ASEAN (94 persen), sepuluh negara anggota ASEAN (79,2 persen), tahun pendirian ASEAN (68 persen) dan kemampuan mereka mengenal baik ASEAN (92 persen).
Hanya saja, kendati negara-negara anggota perhimpunan regional yang didirikan di Bangkok pada 1967 itu dianggap banyak responden memiliki “karakteristik yang cenderung serupa di bidang sosial-budaya”, dari aspek politik, keamanan dan ekonomi, ASEAN dipersepsi memiliki karakter yang berbeda satu sama lain.
Edy Prasetyono mengatakan, dipandang dari aspek kesamaan, sosial budaya menempati urutan pertama disusul politik keamanan dan ekonomi.
Dalam konteks ini, hasil survei menunjukkan bahwa kesamaan di bidang sosial-budaya tidak berkorelasi positif dengan kesamaan sistem politik yang demokratis maupun tingkat pertumbuhan ekonomi.
Dalam seminar yang diselenggarakan FISIP UI bersama Pusat kajian Global Civil Society (Pacivis) itu, Bantarto Bandoro memaparkan pandangan akademisnya tentang sejumlah kecenderungan dan perkembangan masa depan keamanan, diplomasi pertahanan dan komunitas keamanan-politik ASEAN tahun 2015. (*)

