Semburan lumpur panas yang keluar dari pusat semburan di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, kini makin mengkhawatirkan. Saat ini mengarah ke barat, menyusul terjadinya “subsidence” (penurunan tanah) di tanggul terluar sebelah barat sedalam tiga meter.
Humas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), Achmad Zulkarnaen, di Sidoarjo, Selasa, mengatakan penurunan tanah tersebut akibat luapan lumpur di pusat semburan yang mengarah ke barat.
”Saat ini, sedang dilakukan peninggian pada tanggul terluar yang mengalami penurunan. Sebelum ditinggikan, jarak antara bibir tanggul dan lumpur hanya sekitar satu meter. Rencananya setelah ditinggikan, jarak antara bibir tanggul dan lumpur sekitar tiga meter,” katanya.
Ia mengemukakan, saat ini ketinggian tanggul sekitar delapan meter dan akan ditinggikan hingga mencapai 11 meter.
Saat ini, luapan lumpur dari pusat semburan masih terus mengalir ke kolam penampung di Desa Siring dan Renokenongo, yang berada di sisi barat bekas tanggul cincin yang telah hilang akibat terkikis derasnya luapan lumpur beberapa waktu lalu.
Selain derasnya aliran lumpur, kondisi itu juga disebabkan tanggul di sebelah Jalan Raya Porong mengalami penurunan tanah sekitar dua meter.
”Tanggul yang paling rawan terjadi penurunan tanah berada di titik 10 hingga 64 atau sepanjang sekitar 1,2 kilometer. Mulanya tinggi tanggul tersebut sekitar 11 meter, kini tinggal sekitar delapan meter,” tambah Zulkarnaen.
Ia menduga, penurunan tanah di tanggul terluar, akibat terjadinya rongga di bawah permukaan tanah yang disebabkan semburan lumpur di rumah Okky Andryanto, di Desa Siring Barat.
”Jarak antara tanggul terluar dan semburan lumpur itu hanya sekitar seratus meter,” katanya.
Kepala Divis Gas BPLS, Dodie Irmawan, mengungkapkan rekahan tanah yang menjadi jalan keluar semburan gas, juga mulai mengarah ke sisi barat Desa Siring, yakni Desa Pamotan yang berjarak sekitar satu kilometer dari kolam lumpur.
Pada Senin (27/7), muncul lagi semburan gas ke-120 di Desa Pamotan, Porong. Dari hasil pengukuran dengan ”Ground Penetrating Radar” (GPR) atau pengukur kondisi di bawah permukaan tanah, wilayah Siring rawan terjadi penurunan tanah karena berongga.
”Alat GPR menggambarkan banyak rongga terjadi di Siring yang menyebabkan rawan terjadi penurunan tanah,” kata Dodie.(*)
Lumpur Sidoarjo Makin Mengkhawatirkan
Diterbitkan pada 28 Juli 2009 oleh B- Watch

