Oleh Nurmimi Tjunty Velley’s
Di satu pagi sekitar pukul 10 pagi di buan Mei 2006, tampak sebuah mobil Hummer meluncur dari kawasan elite Pondok Indah menuju kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Pengemudinya anak muda, tingginya sekitar 167 cm, berperawakan atletis, dengan rambut dicukur pendek.
Mengenakan kemeja putih berlengan pendek, celana hitam. Tak menggunakan dasi, dan di kendaraannya juga tak terlihat ada jas digantung. Ada kesan anak muda yang dikenal bernama Barry ini cukup santai, tak terlalu terburu-buru. Wajahnya kelihatan simpatik dan cerdas.
Sementara di lantai 12 di sebuah gedung yang berdiri kokoh di kawasan segi tiga emas itu, terlihat sebuah ruang rapat. Kursi – kursinya terlihat sudah tertata rapi berbentuk persegi panjang mengelilingi meja.
Satu persatu, kursi – kursi itu terlihat mulai diduduki para peserta rapat berpakaian stelan jas lengkap. Mereka terdiri dari peserta rapat pemegang saham dan pemilik serta perwakilan perusahaan asing pemilik konsesi tambang minyak dan gas bumi (migas) di wilayah Jawa Timur.
Rapat lengkap dipimpin Presdir PT GEP Adhi Ghana. Rapat sempat tertunda sejenak, karena Klarisa, anak Sulung Adhi Ghana yang menjabat Wakil Presdir belum hadir. Juga adiknya Barry, anak kedua Adhi Ghana selaku Direktur Operasi.
Tepat pukul 11.00 WIB, saat rapat hendak dimulai, Adhi Ghana memerintahkan salah seorang stafnya untuk memanggil kedua anaknya itu. Sejenak kemudian keduanya memasuki ruang rapat.
Rapat membahas pengembangan usaha, juga keinginan perusahaan membeli saham perusahaan pemegang konsesi tambang migas di Jawa Timur. Setelah rapat dibuka, Adhi Ghana menjelaskan tentang berbagai strategi usaha yang akan dilakukan untuk mengembangkan perusahaannya. Lantas, dia juga memaparkan keinginannya untuk membeli saham perusahaan pemegang konsesi tambang migas di Jawa Timur.
Kemudian, pemilik perusahaan konsesi tambang berdiri dari kursinya setelah diminta oleh Adhi Ghana. Pemilik perusahaan itu mengakui bahwa sudah lama konsesi dimiliki, namun belum dieksplorasi. Dia juga menjelaskan hasil penelitiannya tentang volume migas yang bisa dimanfaatkan. “Ini salah satu harta karun yang tersimpan di Indonesia,” katanya.
Para pemegang saham dan karyawan mengetahui Barry adalah juga seorang sarjana geologi . Dari bangku kuliahnya di luar negeri, Barry tahu betul peta daerah yang mengandung migas dan aman di eksploitasi. Mengenal daerah-daerah yang berbahaya karena terletak di lempeng patahan bumi—amat rentan terhadap getaran. Dia juga mengenal daerah dengan ancaman Mud Vulcano. Karena itu pulalah setelah paparan pemilik perusahaan asing itu, Barry menyatakan keberatannya atas rencana pembelian saham perusahaan tersebut.
“Berdasarkan teori yang pernah saya pelajari, derah konsesi itu rentan bencana. Karena di bawah dasar bumi terdapat banyak lumpur—bisa mengarah terjadinya mud volcano. Karena tekanan gas di perut bumi terus mendesak lumpur ke luar dari bumi, apabila terjadi celah atau lobang sedikit saja, misalnya akibat gempa bumi atau kegiatan pengeboran, maka luapan lumpur akan sulit dibendung. Pada dasarnya saya tidak setuju atas rencana pembelian saham tersebut,” tutur Barry.
Mendengar pernyataan Barry, rapat menjadi hiruk pikuk. Ada pemegang saham yang mendukung sikap Barry dan ada pula mencela Barry sebagai direktur operasi takut menghadapi tantangan, padahal banyak yang meyakini tantangan akan berbuah emas.
Adhi Ghana mengetuk meja dan meminta peserta rapat tertib, lalu dia berdiri dan menjelaskan tentang berbagai keuntungan yang bakal dipetik bila saham beralih ke PT GEP.
”Terus terang ini tantangan bagi perusahaan nasional. Kapan lagi kita akan menjadi tuan di negeri sendiri kalau tidak pernah memulainya,” jelas Adhi Ghana. Pernyataan Adhi Ghana memperoleh dukungan sebagian besar pemegang saham perusahaan itu. Tepuk tangan riuh membahana di ruang rapat.
Rapat masih berlangsung, namun Barry yang merasa kecewa atas pernyataan Adhi Ghana, karena tidak berupaya melakukan penelitian terlebih dahulu. Memilih bersikap oposisi—ke luar dari ruang rapat. Dengan wajah kesal pintu ruangan dibukanya dan lalu ditutup dengan keras, sehingga menimbulkan bunyi cukup menggelegar.
Sikap Barry tidak memperoleh tanggapan sedikitpun dari peserta rapat. Bahkan akhirnya dengan suara bulat rapat memberi dukungan atas keputusan Adhi Ghana. Presiden komisaris perusahaan itu pun berdiri dan memuji keberanian serta langkah maju Adhi Ghana sebagai investor dan pengusaha nasional yang berwawasan luas.
“Kami akan segera merealisasikan pembelian saham itu,” Adhi Ghana menjawab pujian itu. Rapat pun usai. Di lobi tampak mobil mewah berderet menjemput para pemegang saham.
Setelah ke luar dari ruang rapat, Barry langsung pulang ke rumahnya di Pondok Indah. Perselisihan di kantor pun merambah ke rumah. Barry tak tampak makan malam bersama. Dia berada di dalam kamarnya sambil kembali melihat-lihat peta-peta yang dimilikinya semasa kuliah.
Keesokan harinya, Di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, tampak beberapa orang bergegas menaiki sebuah pesawat charter. Pesawat Jet berisi 24 orang itu membawa Adhi Ghana di dampingi Klarisa, Pereskom serta pemilik konsesi dan beberapa staf perusahaan masing-masing.
Terbang ke arah Timur Pulau Jawa. Ketika pewasat melayang melintas di Jawa Tengah, tampak asap mengepul dari gunung berapi. Klarisa dengan senyum mengembang menyatakan rasa optimismenya atas keuntungan yang bakal diperoleh GEP kepada Adhi Ghana yang berada di sampingnya.
Pesawat melayang di atas kawasan Sidoarjo, pemilik konsesi segera menunjukkan letak konsesi miliknya sambil menunjukkan sebuah peta. Pesawat kembali melayang ke Bandara Halim. Di ruang rapat yang sama para pemegang saham kembali hadir menempati kursi yang disediakan.
Adhi Ghana dan pemilik konsesi pun menandatangani naskah jual beli saham.Tepuk tangan terdengar gemuruh usai penandatangan tersebut.
Klarisa menutup pertemuan itu dengan kata-kata bahwa tantangan dan resiko bukan merupakan hal yang perlu ditakuti, tetapi harus disiasati sehingga berubah menjadi keuntungan berlipat ganda.
Tepuk tangan kembali membahana dalam ruang rapat itu. Salah seorang peserta rapat nyeletuk, ”gak ada pekerjaan tanpa resiko. Orang tidur aja beresiko. Coba kalau gak bangun lagi apa tuh namanya.”
Suara tepuk tangan ditingkahi gelak tawa pun terdengar memeriahkan suasana.
Barry ingin mandiri
Jiwa muda Barry memberontak. Pemberontakan yang didasari rasa kecewa itu menimbulkan keputusan dalam hati Barry untuk pergi dari rumah dan hidup sendiri. Barry berpamitan pada ibunya dan menyatakan keinginannya untuk mandiri.
Barry pergi ke garasi dan menghidupkan mesin mobil kesayangannya Hummer H3 berwarna kuning, lalu meluncur ke rumah Simon - seorang wartawan dan fotografer dari salah satu media cetak Jakarta. Setelah berbincang sejenak dengan Simon, mereka berdua menuju rumah Hari, mantan tokoh aktivis mahasiswa—juga sarjana geologi.
Ketiga sahabat itu berbincang-bincang tentang rasa penasaran Barry atas sikap perusahaan ayahnya yang mengambil alih konsesi perusahaan asing di Jawa Timur.
“Bener-benar gak masuk diakal tolol gue. Si Bos ngambil barang yang menurut teori penuh resiko,” keluh Barry.
“Lantas, apa mau lu Bar,” Simon bereaksi, sambil mengatakan, ”apa yang bisa gue kerjain untuk bantuin lu?”
Sedang Hari menyatakan pendapatnya, penelitian harus segera dilakukan agar kecemasan tidak hanya tinggal kecemasan belaka.
“Itu niat gue. Ingat film Tetanik. Coba kalau sutradaranya gak bikin kapalnya karam. Gak bakal kapalnya karam. Maksud gue kalau kita lakukan penelitian ternyata hasilnya buruk kan gue bisa ngotot tidak perlu dilanjutin. Biar kapal gue gak kandas,” kata Barry.
“Ayolah cabut,” kata Barry, “Kita jalan-jalan aja ke arah Timur siapa tau ada yang menarik di sana,“ tambahnya.
Ajakan Barry disambut para sahabatnya itu. Lalu mereka menyiapkan berbagai peralatan seperlunya. Simon menyiapkan kamera dan Leptopnya.
Perjalanan di mulai menyusuri Pantai Utara Pulau Jawa. Udara panas terasa menyengat. Di beberapa objek wisata, mobil berhenti untuk memberikan kesempatan bagi Simon mengambil gambar. Mereka bertiga bergantian mengemudikan mobil Hummer.
Barry tidak bisa tidur di atas mobil, karena pikirannya dihantui oleh pengerjaan proyek di Sidoarjo Jawa Timur. Mobil terus melaju melewati kota Semarang ke arah Yogyakarta. Menjelang subuh Barry menghentikan mobilnya di sebuah warung kopi. Tiga orang sahabat itu turun dari mobil duduk dan memesan kopi serta mi instan. “Gila lu bedua molor aja. Emangnya gue supir lu,” kata Barry.
“Tenang bos, kalau gue gak molor, cuma jahit bulu mata,” kata Simon. Hari pun tertawa. Di tengah asik mereka bercanda tiba-tiba gelas kopi terjatuh di atas meja. Gempa terasa mengguncang cukup hebat. Barry, Hari dan Simon secara reflek melompat dari kursi dan lari ke luar warung. Subuh yang hening berubah menjadi suasana hiruk pikuk. Mereka bertanya-tanya di mana sumber gempa. Sebab gempa terasa cukup hebat di daerah itu.
Tak lama kemudian, HP Simon berdering. “Oke bos, siap bos. Di jalan bos. Siap besok saya meluncur,” kata Simon. Kemudian dia menjelaskan kepada Barry dan Hari bahwa dirinya baru saja dihubungi kantornya—mengabarkan telah terjadi gempa di Yogyakarta dan dia ditugaskan melakukan peliputan.
“Kebetulan kita di sini, paling lama 1 jam lagi kita sampai Yogya. Gimana Bar, gue di drop di sana aja deh,” kata Simon kepada Barry dan Hari.
“Eh gak bisa begitu kawan. Lu mesti ikut kita ke Jawa Timur. Kita bersama lu ke Yogyakarta, Ok !,” kata Barry. Mereka segera menaiki mobil dan meluncur ke kota Gudeg. Betapa terkejutnya mereka ketika masuk ke kota Yogyakarta, mereka melihat banyak penduduk yang tidur di bawah tenda di trotoar-trotoar, terlihat banyak rumah yang luluh lantak—rata dengan bumi serta banyak pohon tumbang.
“Busyet deh kenapa jadi begini,” kata Hari yang berada di belakang kemudi. Barry juga amat terkejut demikian pula Simon yang dengan sigap mengambil gambar kepanikan warga.
“Kita mesti tinggal beberapa saat di sini. Gue gak tega melihat penderitaan orang-orang itu,” kata Barry.
“Ok bos,” sambung Hari.
“Kalau gue pastilah, emangnya mau dipecat. Jaman gini khan cari kerja susah,” kata Simon.
Barry menimpali, ”Ya entar kalau lu dipecat jadi aja tukang foto keliling, mangkal deh di Ragunan.” Tiga sahabat itu pun tersenyum .
Berkenalan dengan Gina
Sambil berputar di dalam kota mencari penginapan, Simon melakukan pekerjaannya sebagai seorang wartawan, sementara Barry dan Hari memberikan pertolongan kepada masyarakat membangun tenda-tenda pengungsian. Simon ditugasi kantornya untuk melakukan wawancara dengan nara sumber yang berlatar belakang LSM.
”Aduh BT nih, kantor gue ogah pernyataan pejabat melulu. Gue disuruh cari pimpinan LSM sebagai nara sumber,” kata Simon.
“Payah lu, begitu aja ngambek,” kata Barry.
“Pilih jadi wartawan apa tukang foto keliling,” celetuk Hari. Akhirnya mereka bertemu dengan salah seorang pimpinan LSM asal Jawa Timur yang tengah membantu masyarakat. bersama kelompok LSM dari daerah-daerah lainnya. Pimpinan LSM itu bernama Gina.
Barry dan Hari turut berkenalan dengan nara sumber Simon itu, Barry terkesan dengan Gina, sosok gadis militan dan tangguh. Tidak mengenal lelah dalam melakukan tugasnya.
Pagi, sekitar pukul lima subuh, tanggal 27 Mei 2006, Simon tersentak dari bangunnya, karena tilpon genggamnya terus berdering. Rupanya tilpon datang dari kantornya di Jakarta, memerintahkan Simon segera bertolak ke Sidoardjo, Jawa Timur.
“Ada apa bos, pagi-pagi buta tilpon,” Tanya Simon dengan nada suara masih mengantuk.
“Lo gak dengar radio atau nonton TV apa, Sidoardjo udah tenggelam ditelan Lumpur,” kata sang penilpon.
“Siap bos,” kata Simon sambil menutup tilponnya. Barry dan Hari pun terbangun.
“Ada apa Mon, pagi-pagi udah ngedomel,” tanya Barry.
“Sidoardjo udah tenggelam oleh Lumpur,” Jawab Simon yakin.
Barry pun tersentak, di benaknya yakin betul, ini pasti akibat pengeboran. Tapi perusahaan apa yang melakukannya dia belum pasti.
Dia yakin, pastilah yang terjadi suatu tragedi banjir lumpur panas akibat kesalahan pengeboran. Dari Radio mobilnya dia memonitor ada warga yang tenggelam bersama kendaraannya. Bahkan lumpur mulai menggenangi areal persawahan, pemukiman penduduk dan kawasan industri.
Barry memperkirakan volume lumpur sekitar 5.000 hingga 50 ribu meter kubik perhari (setara dengan muatan penuh 690 truk peti kemas berukuran besar).
Tiga sekawan, Barry, Hari dan Simon meninggalkan Yogyakarta meneruskan perjalanan menuju Sidoarjo melalui Solo, Grobogan, Blora , Bojonegoro dan kembali melintas di Pantai Utara Pulau Jawa. Rombongan kecil itu, menyempatkan diri melihat pertambangan minyak dan gas bumi di Cepu dan Bojonegoro.
“Luar biasa, kita memiliki banyak sumber minyak dan gas bumi,” kata Barry.
“Belum lagi yang berada di pulau lain dan laut kita. Seharusnya kita kaya raya seandainya pengusaha nasional yang melakukan eksplorasi,” timpal Hari.
Simon tiba-tiba tertawa, dan berkata, ”tapi kenapa amat ironis harga BBM mahal dan kerap kali kita melihat rakyat miskin mesti antri minyak tanah !?.”
“Gimana sih lu? katanya kerja di majalah berita tapi gak tau kebijakan penggantian minyak menjadi gas. Rakyat miskin sudah dibagi tabung gas berukuran khusus lengkap dengan kompornya,” tutur Hari menjawab pertanyaan Simon.
“Ya…ya gue ngerti.Tapi tabung ukuran mini itu tidak pernah ada di pasaran. Ingat hampir 80 persen penduduk kita berada di pedesaan, Rata-rata mereka berpenghasilan kecil. Jadi rata-rata mereka hanya mampu membeli bahan bakar ketengan. Mana mungkin beli gas hanya sekilo atau dua kilo. Lebih mungkin mereka beli minyak tanah. Dan itu pun jarang juga kita melihat penduduk membeli minyak tanah sekaligus 10 liter paling banyak 5 liter,” kata Simon sengit.
“Ri, Memang kita harus sadar kemampuan kebanyakan rakyat tidak seperti kita dalam hal daya beli. Kali ini kita harus mengakui argumentasi Simon, sulit dipatahkan. Kita melihat fakta di sepanjang perjalanan ini, banyak anggota masyarakat hidup
kurang layak, padahal mereka hidup di atas harta karun,” tutur Barry menengahi perdebatan ke dua sahabatnya.
Mereka sampai di kota Sidoarjo. Kota yang tadinya tenteram seperti layaknya kota-kota lain di wilayah Jawa Timur, kini mulai hiruk pikuk akibat semburan Lumpur panas. Industriliasasi yang tengah menggeliat, kini mulai terusik, bahkan terancam.
Utamanya di daerah tanggul Angin yang biasanya banyak sentra-sentra kerajinan kulit berproduksi untuk memenuhi pesanan, dengan banyak menyerap tenaga kerja, kini kelihatan lengang. Pemiliknya tampak berkemas dan siap-siap menghadapi berbagai kemungkin. Mereka tak lagi menghiraukan pesanan baik dari kota-kota besar di Indonesia maupun negara-negara lain di kawasan Asia dan Eropa.
Barry tak sabar, dia ingin segera melihat perusahaan apa yang sedang melakukan pengeboran, hingga mengakibatkan terjadinya semburan Lumpur panas yang tak terkendali itu. Dia mengarahkan kendaraannya ke desa Siring, Renokenongo dan Kedung Bendo.
“Malam begini, mana ada orang yang bekerja,” cegah Hari dan Simon,. Mereka masuk ke sebuah penginapan untuk istirahat dan mempersiapkan peralatan mereka.
Ledakan keras
Keesokan harinya. Barry tampak bangun lebih awal. Rasa.penasaran membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. Kemudian Barry ditemani Hari dan Simon melakukan penelitian di area sekitar proyek. Dari hasil penelitian mereka sehari penuh, pada akhirnya mereka menyimpulkan bahwa daerah tersebut betul merupakan daerah mud volcano yang setiap waktu bisa saja muncul ke permukaan bila ada pemicunya. Pemicu tersebut bisa berupa getaran dengan frekuensi tinggi atau gempa tektonik.
“Hasil penelitian kita menunjukkan daerah ini amat berbahaya. Persis seperti yang pernah gue pelajari di bangku kuliah dulu ,” kata Barry.
Hari mengangguk. Dan menambahkan, “bila proyek dikerjakan tanpa perhitungan yang matang atau terjadi gempa tektonik bukan keberuntungan yang muncul, tapi sebaliknya.”
Simon tiba-tiba tersenyum. “Ingat kawan. Kita bukan apa-apa dan siapa-siapa di sini,” tuturnya mengingatkan.
”Tapi hanya pengelana merangkap peneliti,” tambah Simon.
Barry tampak termenung sejenak.
Keesokan harinya, Barry ditemani dua sahabatnya kembali datang ke area proyek. Barry terkejut ketika melihat truk, buldoser, beko dan alat-alat berat di sana dan masih siap beroperasi—kendati bumi terus memuntahkan Lumpur.
“Oh…..no,” gumam Barry. Hari hanya menggeleng-gelengkan kepala, sedang Simon asyik mengambil gambar alat-alat berat. Tak lama kemudian, muncul para operator alat berat bersama pekerja lainnya.
“Bapak ini dari perusahaan mana ya pak’” tanya Barry kepada salah seorang operator alat berat.
“Dari PT GEP pak,” jawab operator itu acuh.
Barry terkejut setengah mati. “Kok secepat itu,” pikirnya.
Kemudian dengan HP-nya dia berusaha menghubungi Adhi Ghana—ayahnya, tapi gagal. Kemudian beralih ke Klarisa – kakaknya, juga gagal karena tidak diangkat. Para pekerja mulai melakukan tugasnya masing-masing di lapangan.
Barry yang tampak kesal, gugup dan panik berupaya menghentikan kegiatan para pekerja. Sambil berlari ke arah mereka Barry yang diikuti Hari dan Simon berteriak,”hei stop, berhenti dulu. Jangan lanjutkan pekerjaan kalian!.”
Teriakan dan peringatan Barry tidak digubris para pekerja. Mereka tetap melakukan tugasnya masing-masing.
“He siapa lu. Enak aja ganggu orang kerja, pergi sana entar sampean tak uruk pake tanah,” tutur salah seorang operator beko yang tidak mengetahui siapa Barry sesungguhnya.
Darah muda Barry mendidih. Tetapi Hari dan Simon buru-buru mengingatkan. ”Bar percuma lu marah atau ngotot sama mereka. Mereka orang kecil, ngertinya cuma kerja sesuai target yang telah ditentukan,” kata Simon.
“Udah jangan cerewet aja lu bedua,” kata Barry.
”Ayo ikut gue ke kantor proyek. Gue mau ketemu sama pimpinan proyek. Bila perlu sama kepala perwakilan GEP di sini,” jelas Barry.
Mereka bergegas ke kantor proyek. Barry mau menemui pimpinan proyek. Pimpinan proyek kebetulan memang berada di tempat. Tanpa basa-basi Barry tanpa menyebutkan identitasnya secara jelas, langsung saja minta agar proyek dihentikan.
“Pak tolong proyek dihentikan dulu,” katanya. Tanpa diminta Barry mengungkapkan argumentasinya berdasarkan hasil penelitiannya dan berbagai teori yang diperolehnya dari bangku kuliah.
“Nuwun sewu (maaf) mas . Permintaan sampeyan tidak bisa kami penuhi. Semua peralatan dirental, kita harus bekerja sesuai target,” tutur kepala proyek berkepala botak itu.
Sementara di lapangan alat drilling dan berbagai peralatan pendukung lainnya terlihat terus bekerja. Deru mesin dan bunyi dari pipa-pipa besar yang terus disuntikkan ke perut bumi terdengar memekakkan telinga.
Ledakan keras tiba-tiba terdengar. Perdebatan yang berlangsung terhenti seketika.
Seluruh petugas di kantor kecil itu berhamburan ke luar. Demikian pula Barry dan sahabatnya. “Wah gila nih! apa yang terjadi!,” teriak Simon sambil berlari ke luar, kamera di tangan siap dibidikannya.
Setelah dekat dengan sumber suara ledakan, Barry dan Hari tercengang melihat semburan Lumpur yang tadinya tak begitu tinggi, kini muncrat cukup tinggi dan deras ke luar sekitar 200 m dari lokasi pemboran.
“Ini dia yang gue kuatirin!,” teriak Barry.
Simon juga berteriak, “Ini dia yang gue cari !!!.”
Hari tertawa mendengar teriakan Simon. Kesibukan kerja di proyek berubah menjadi kepanikan luar biasa. Tanpa diperintah peralatan berat dan para pekerja mundur dari lokasi. Lumpur panas yang menyembur deras terus menggenangi lokasi dengan cepat.
Barry, Hari dan Simon lari dan masuk ke dalam mobil Hummer pergi menjauh dari lokasi tersebut. Lumpur mengalir semakin deras, peralatan berat terus menyingkir ke dataran lebih tinggi hanya tinggal rig (alat pengeboran migas). Kantor dan bedeng-bedeng proyek terus digenangi lumpur.
Pimpinan proyek tampak sibuk menghubungi entah siapa dengan HP-nya..Para mandor dengan HT-nya berteriak-teriak memerintahkan pekerja agar memindahkan peralatan berat ke lokasi aman.
Lumpur yang muncul dari permukaan tanah dengan tekanan amat dahsyat itu, memang sulit dikendalikan. Banjir lumpur di area proyek dengan cepat menyerang pemukiman penduduk.
Suasana tentram damai, berubah menjadi hiruk-pikuk. Warga yang rumahnya mulai dirembesi lumpur tampak panik. Tangisan anak-anak, ibu dan para orangtua makin memanaskan siang terik itu. Asap lumpur panas mengepul di mana-mana.
Puluhan penduduk melarikan diri ke dataran lebih tinggi, semakin lama semakin bertambah jumlahnya. Gina dan Tole tampak ikut berlarian membaur bersama penduduk—mengungsi membawa harta benda seadanya.
Polisi, aparat keamanan dan para pemuda desa sibuk melakukan evakuasi.
“Mbok sekarang kan belum kiamat ya,” teriak ibu setengah baya yang menggandeng seorang nenek usia lanjut.
“Embuh ndok,” jawab nenek tua itu sambil mengusap air mata di pipinya.
Seorang tokoh agama bernama H Tohir—merupakan salah satu tokoh berpengaruh di desa itu, dia mencoba menenangkan massa.
“Tenang-Tenang, sabar-sabar. Ojo kemerungsung, Allah pasti menunjukkan jalan agar kita semua selamat,” teriaknya berulang kali. H Tohir mencoba memandu warga ke tempat aman.
Sakit hati
Barry tak ingin lagi berdebat dengan ayah atau kakaknya – Klarisa. Hp disaku celana jeannya berdering, dia melihat ternyata no HP ayahnya, namun tidak diangkatnya. Demikian pula ketika Klarisa mencoba menghubunginya.
“Gue benar-benar sakit hati. Ternyata gue yang benar, biar aja. Kita lihat apa bakal terjadi,” gumam Barry sambil memasukkan HP ke saku celana jeannya kembali.
Setelah empat desa dibanjiri lumpur panas dengan bau menyengat, terlihat ada upaya membangun tanggul untuk mengarahkan aliran Lumpur ke Sungai Porong, upaya ini dilakukan untuk meminimalkan meluasnya area yang terendam lumpur.
Tetapi upaya itu kurang cepat dilakukan, akibatnya kompleks perumahan juga mulai digenangi lumpur. Penduduk kelihatan makin panik.
Warga yang resah mulai melakukan protes melalui berbagai kegiatan, utamanya unjuk rasa. Beberapa provokator muncul dari kompleks perumahan. Kodir, Joni, Ramli dan Stifen. Mereka mengusulkan agar warga langsung bersikap keras kepada PT GEP dan Pemkab Sidoarjo.
“Kita harus memelekkan mata PT GEP dan pemerintah daerah, karena ulah mereka kita jadi sengsara,” tutur salah seorang dari mereka.
“Gimana caranya,” jawab seorang lainnya. Stifen mengusulkan sebuah tindakan tegas. Mereka lantas megimbau warga melakukan penyanderaan atas salah seorang pekerja GEP.
Sebelum penyanderaan, mereka melakukan unjuk rasa ke Pemkab Sidoarjo—menuntut ganti rugi secara tunai. Ada pula kelompok lain dari 4 desa dipimpin Gina seorang aktifis LSM Peduli Lingkungan Hidup. Mereka menuntut agar pemerintah melakukan relokasi lengkap dengan bangunan seperti apa yang telah mereka miliki sebelum terjadi musibah lumpur panas.
Setelah menunggu beberapa saat, ternyata PT GEP dan Pemkab tidak memperlihatkan tanda-tanda akan memenuhi tuntutan mereka. Para korban hanya diberi tempat mengungsi sementara di Pasar Baru Porong. Lalu kelompok Stifen dan warga lainnya menyandera pemimpin proyek.
Barry, Hari dan Simon bergabung dengan para korban di pengungsian pasar Porong. Di tempat itu mereka bertemu seorang bocah laki-laki bernama Tole, pedagang koran yang setiap hari menjajakan korannya di tempat pengungsian itu. Setiap hari Barry dan para sahabatnya membeli koran untuk memantau keadaan.
Tole mengaku warga salah satu desa yang terendam Lumpur, dia sudah lama hidup sebatang kara dan tidak punya tempat tinggal—gubuknya lenyap disapu lumpur.
Barry, Simon dan Hari lalu bersahabat dengan Tole. Tole yang memandu mereka memasuki berbagai lokasi bencana dan mengunjungi beberapa lokasi pengungsian.
Stifen dan kawan-kawan juga mengenal Barry. Dalam suatu perbincangan secara tidak sengaja mereka menyatakan kepada Barry bahwa pihaknya tengah menyandera pimpinan proyek.
“Wah pantas saja gue liat polisi mondar-mandir di sini. Ternyata mereka menyandera pimpro,” kata Barry kepada Hari dan Simon setelah berbicang dengan kelompok Stifen.
Barry memang pandai bergaul, dalam setiap kesempatan selalu bersama-sama penduduk—bertukar pikiran dan melakukan berbagai perbincangan. Barry meminta kelompok Stifen melepaskan pimpro.
Setelah melalui proses negosiasi yang berisi, pemda dan pengusaha bersedia memberikan jaminan hidup selama enam bulan, dan memberi uang untuk mengontrak rumah selama dua tahun senilai Rp5 juta/Kepala Keluarga (KK) dengan Pemkab dan utusan PT GEP, kelompok Stifen membebaskan Pimpro.
Perempuan muda cantik, cerdik cebolan ITS Surabaya, bernama Gina, adalah ketua LSM Peduli Lingkungan Hidup Jawa Timur. Kepedulian LSM ini terhadap penderitaan rakyat telah terbukti dengan membantu korban gempa bumi di Yogyakarta.
Kini LSM Gina berada di garis terdepan dalam membela kepentingan rakyat empat desa, antara lain Desa Siring dan Gedong Bendo. Ini bukan semata karena Gina juga menjadi korban amukan lumpur panas.
Sambil melakukan aksi demo, masyarakat desa berupaya secara mandiri menghentikan luapan lumpur panas melalui berbagai ritual. H Tohir bersama anggota masyarakat melakukan doa bersama. Ada juga lurah yang membuka sayembara bagi para normal. Yaitu, bagi siapa pun yang dapat menghentikan semburan lumpur akan memperoleh satu unit rumah BTN tipe 36.
Beberapa para normal datang silih berganti dengan berbagai macam binatang kurban melakukan ritual, tapi tidak bisa menghentikan luapan lumpur. Wayang kulit pun digelar semalam suntuk hasilnya tetap nihil.
Gina bersama Reni dan kelompoknya melakukan berbagai aksi demonstrasi. Akhirnya Gina merasa perlunya seluruh kekuatan bergabung menjadi satu. Sebab itu, kelompok empat desa mencoba melakukan pendekatan dengan kelompok Perumtas yang membangun posko di pasar baru Porong.
Gina sepakat menggelar rapat bersama untuk menentukan strategi perjuangan selanjutnya. Suatu hari saat rapat berlangsung, tampak Gina dan Barry sama-sama terkejut karena mereka bisa bertemu kembali setelah pertemuan di Yogyakarta.
Kelompok Stifen menjelaskan bahwa Barry dan kawan-kawannya adalah para peneliti dan wartawan yang mendukung pergerakan mereka. Unjuk rasa terus bergulir, kantor DPRD, Kebapaten dan kantor perwakilan GEP menjadi sasaran mereka.
Meski mereka berusaha bersatu, tetapi tetap saja muncul kelompok sempalan—dipimpin Rustam. Massa Rustam cenderung melakukan tindakan-tindakan anarkis, seperti perusakan. Sehingga tak jarang terjadi perselisihan dengan kelompok Gina dan Perumtas. Bahkan kamera Simon hancur akibat baku hantam itu.
Barry yang selalu berupaya menyatukan kelompok-kelompok masyarakat itu marah—bersama Gina dan kelompok Stifen berusaha mengusir kelompok anarkis itu dari gabungan kekuatan masyarakat.
Untuk menekan pemerintah daerah, kelompok Stifen, Gina, didukung Barry dan para sahabatnya termasuk Tole menduduki pendopo Kabupaten.
Suasana GEP
Suasana di kantor GEP yang hingar-bingar terlihat berubah menjadi agak lesu. Berbagai rapat dan pertemuan dipimpin Adhi Ghana berlangsung hampir setiap malam. Suasana rapat semula penuh optimisme menuai untung besar – kini hanya tinggal kenangan. Berubah menjadi suasana menegangkan, terutama saat membahas berbagai tekanan dari berbagai penjuru. Misalnya dari rakyat dan Pemkab Sidoarjo, DPR dan Pemerintah Pusat.
Adhi Ghana tampak tetap tegar menghadapi seluruh masalah, karena dia masih memiliki usaha lain yang selalu mengalirkan keuntungan ke koceknya. Ketika dia berada di ruang kerjanya, dia ingat kembali pernyataan Barry. Dia teringat pula beberapa hasil diskusi yang digelar berbagai pihak.
“Ah itu semua hanya perjalanan. Aku harus tetap optimis bahwa harta karun bakal bisa segera dikeruk. Semua butuh pengorbanan,” katanya bergumam. “Bukankah tanggul sudah dibangun, bisa saja lumpur itu sewaktu-waktu berhenti sendiri menyembur.”
Pikirnya.
Adhi Ghana terkejut ketika sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ahli dan perguruan tinggi nasional menyatakan, lumpur akan menyembur dalam kurun waktu cukup lama, yaitu selama 32 tahun. Di samping itu, tanah di sekitar sumber lumpur akan terus amblas.
“Oh betapa sulitnya masalah yang mesti saya hadapi. Tapi apa pun terjadi saya mesti bertanggungjawab. Masalahnya apakah kesalahan itu adalah kesalahan langsung perusahaan yang saya pimpin,” tanyanya dalam hati.
‘Salah-salah dan tidak salah ………………. Bukan kah ini termasuk bencana nasional ? Kalau saya dan orang-orang lain diperusahaan ini bersalah. Seharusnya pengadilanlah yang berhak menyatakan,” gumamnya lagi.
Tanpa berpikir panjang lagi, Adhi Ghana menghubungi beberapa pengacara yang sudah lama dikenalnya.
Suatu ketika dia harus ke Sidoarjo mendampingi dan harus hadir menerima pengarahan dari Presiden. Pada kesempatan itu dia diperintahkan segera memberikan ganti rugi bagi para korban lumpur panas itu.
Di Jakarta Adhi Ghana terus menggelar rapat memperhitungkan dana ganti rugi yang mesti dikeluarkannya. Selain itu, Adhi Ghana tetap melakukan konsultasi dengan para penasihat hukumnya.
Suasana rapat-rapat di kantor itu semakin menegang. Karena dana yang harus dikeluarkan ternyata cukup besar dan Adhi Ghana tak bisa mengelak dari tanggung jawab.
Barry selalu mendukung pergerakan Gina dan kawan-kawannya. Demikian pula Simon dan Hari. Kelompok Gina selalu melakukan unjuk rasa dengan tertib dan terkendali. Ketika hujan deras menguyur Sidoarjo, Gina, Renni, Barry, Simon, Hari serta seluruh warga yang mengikuti aksi damai itu tampak basah kuyup, mereka berteduh di Pendopo Pemkab Sidoardjo.
Gina ditemani Renni dan Tole duduk lunglai di sudut pendopo. Barry dan kawan-kawan usai melakukan negosiasi untuk meminta waktu sejenak kepada aparat, terlihat bergegas menghampiri Gina.
“Gina kamu kenapa ? Sakit. Pusing atau kenapa?,” tanya Barry.
Gina memandang Barry dan menjawab: ”tak apa-apa mas, mungkin aku kecapean.”
Siang merangkak sore, Barry dan kawan-kawan ditemani Tole segera mencari warung untuk membeli nasi bungkus. Entah berapa banyak nasi bungkus dibeli Barry, yang pasti mobil Hummer kuning milik Barry tampak penuh.
Gina, Renni dan kawan-kawannya serta Barry dan kawan-kawannya tampak sibuk membagi-bagikan nasi bungkus itu. Usai membagikan, Gina, Barry dan dkk juga menikmati nasi bungkus di sudut pendopo.
Barry merasa ada perasaan aneh, dia tidak merasa letih sedikitpun bila berada di dekat Gina. “Gue bingung … kenapa gue merasa damai dekat perempuan ini. Terus Terang Gue simpati dan kagum atas keberaniannya,” gumam Barry.
Tapi tiba-tiba muncul di bayangannya wajah Bunga teman dekat Barry di Jakarta, sayangnya hubungan mereka tidak disetujui ayah Bunga yang juga dikenal baik oleh Barry.
Gina juga merasa ada perasaan aneh bila berdekatan dengan Barry. Sikap Barry yang selalu berada di pihak masyarakat telah menimbulkan rasa simpati. Dia tidak habis mengerti, Barry—seorang ilmuwan dan tampaknya dari kalangan orang berada mau berjuang tanpa di undang.
“Sebetulnya apa peduli dia sama warga. Dia bisa tinggal di hotel atau dimanapun dia mau,” gumam Gina dalam hati.
Malam pun mulai merangkak, peserta aksi massa mulai terlelap ditelan keletihan. Tole tampak tertidur di atas keset seperti seekor kucing. Sementara Simon dan Hari asik berbincang dengan Renni dan kawan-kawannya—mengatur startegi selanjutnya.
Gina duduk menyendiri di anak tangga. Barry—usai menyimpan mobil kesayangannya di tempat aman, begitu melihat Gina menyendiri, berusaha menghampirinya.
“Hai, selamat malam Gina,” sapa Barry sambil duduk di sebelah Gina.
“Malam mas Barry,” jawab Gina, sambil bergeser dari tempatnya semula.
“Kok kamu menyendiri ?,” tanya Barry lagi.
“Ya.. perlu dipikirkan langkah selanjutnya… agar gerakan kita tidak menjadi perjuangan sia-sia,” jawab Gina. Dia balik bertanya kepada Barry, apa alasannya ikut-serta dalam gerakan masyarakat menuntut haknya.
Dengan nada ringan tapi bersungguh-sungguh Barry menjawab, ”saya seorang peneliti geologi… tak lebih dari itu. Bila Gina peduli dengan penderitaan rakyat Yogyakarta, kenapa saya tidak boleh peduli dengan masyarakat Sidoarjo.”
Pandangan mereka beradu, mereka tak sengaja saling menatap, lalu sama sama memandang ke arah Tole yang tertidur nyenyak.
”Penderitaan kita tidak seberat Tole….beruntung dia masih anak-anak, jadi tidak terlalu merasa getir dengan kejadian ini,” kata Gina—lalu dia menceritakan tentang kehidupan Tole tetangganya itu.
Tole adalah anak yatim piatu. Ayahnya telah lama meninggal dunia. Ibunya dua tahun lalu menyusul ayah Tole. Rumah gubuknya terendam lumpur. Sebelum kejadian itu, Tole menghilang entah ke mana. Ternyata dia menjadi loper koran.
Barry tampak mendengarkan kisah Tole dari Gina dengan penuh perhatian, walau sebetulnya cerita yang sama sudah didengarnya langsung dari Tole. Sambil mengisap sebatang rokok, Barry pun bertanya pada Gina, bagaimana tentang Gina. “Apakah kamu juga hidup mandiri seperti Tole?”
Gina menatap wajah Barry dalam-dalam. “Aku lebih beruntung dari Tole. Aku lulusan ITS Surabaya, bapak dan ibu kini berada di Kediri di rumah kakekku. Soal tempat tinggal nasibku sama dengan Tole. Rumah, sedikit harta dan bengkel kerja kerajinan kulit milik ayahku tenggelam ditelan lumpur panas itu,” tuturnya Gina getir.
Barry juga terlihat prihatin, kemudian dia menceritakan bahwa dia pernah kuliah di luar negeri. Pernah juga bekerja di sebuah perusahaan besar, tapi dia lebih suka menjadi peneliti, karena bisa hidup berdampingan dengan masyarakat.
Malam pun terus bergulir. Hujan rintik-rintik dan udara dingin menyergap kedua anak muda yang tengah berganti kisah itu. Gina tampak menggigil kedinginan. Jaket kulit domba buatan Australia di pangkuan Barry kemudian diserahkannya pada Gina.
“Gina pakailah jaket ini,” tutur Barry. Semula Gina menolak, tapi Barry memaksa dengan mengenakan jaket ke tubuh Gina. Akhirnya Gina menerima dan dia pun menggenakan jaket kulit milik Barry.
Kemudian Barry mengajak Gina berkeliling melihat-lihat kondisi para pengungsi yang berada di beberapa lokasi. Gina tidak menolak ajakan Barry. Mereka terus berkeliling dari lokasi pengungsi satu ke pengungsi lainnya dengan mobil Hummer kuning.
Mengagumi Gina
Barry mengaku mengagumi Gina sejak awal pertemuan mereka di Yogyakarta. Gina hanya diam mendengarkan penuturan Barry. Matanya menerawang jauh, jantungnya berdegub kencang. Dia merasa sulit mengakui bahwa sebenarnya dia juga menaruh simpati pada Barry—sosok lelaki jantan penuh rasa tanggung jawab dan memiliki kepedulian tinggi terhadap penderitaan orang lain.
Karena tidak memperoleh tanggapan apa-apa Barry menghentikan mobilnya. “Hallo Gina kamu kok melamun… apa yang terjadi ?,” tegur Barry sambil mencoba menyentuh tangan Gina. Gina menarik tangannya perlahan. “O gak ada apa-apa mas, di benakku hanya ada penderitaan masyarakat — mereka hampir tanpa harapan,” kilah Gina.
“Aku hanya berpikir tentang anak-anak mereka, jangan sampai Tole-tole baru bermunculan,” tambah Gina.
Fajar mulai merangkak naik. Mereka memutuskan kembali ke Pendopo Pemkab Sidoarjo. Setelah beristirahat sejenak, Gina bersama kawan-kawannya ditemani Barry dan dua sahabatnya ditambah Tole, kembali melangsungkan demo dengan tuntutan-tuntan masyarakat – merela menuntut penggantian berupa relokasi. Sedang Stifen bersama kelompoknya menuntut ganti rugi cash and carry.
Dalam riuh rendahnya demo, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki setengah baya menyeruak dan minta diberi jalan agar dia bisa berada di baris terdepan.
“Tolong saya dikasih jalan…,” tuturnya. Massa yang waspada menghentikan langkahnya.
”Bapak ini siapa kok nerenjel-nerenjel,” tanya salah seorang peserta demo.
Laki-laki setengah baya itu membentak sambil melotot. ”Saya ini anggota DPR wakil kalian datang dari Jakarta tau!!!” Ia pun segera menunjukkan lencana di jasnya.
“Wong mau dibela kok mempersulit. Kalau aku gak kemari nanti dibilang anggota DPR terhinggapi penyakit 4 D – datang, duduk, diam dan ambil duit,” celetuknya sambil terus maju ke arah Gina, Reni, Barry dan kawan-kawan di barisan depan.
Setelah sampai di depan barisan dia minta pengeras suara dan anggota DPR itupun berorasi.
Usai melakukan aksinya, massa membubarkan diri secara tertib. Masing-masing kelompok kembali ke barak pengungsian dan ke rumah kontrakan masing-masing. Barry, Gina beserta kawan-kawannya tidak dapat lagi masuk ke pendopo kabupaten, mereka kembali ke barak-barak pengungsian.
Gina kali ini mulai merasa amat tertarik dengan Barry. Tetapi dia tidak mungkin mengungkapkannya, seperti kemarin malam Barry telah mengungkapkan terlebih dahulu rasa simpatinya, dia berharap Barry kembali menyatakan perasaannya.
Namun Barry merasa ragu mengatakan kembali perasaan hatinya kepada Gina. Di tengah keraguannya itu HP-nya berdering, tilpon dari Bunga, sahabat Barry di Jakarta. Dalam percakapan telepon, Bunga menyatakan kerinduannya kepada Barry karena sudah lama tidak menghubunginya. Barry menanggapi dingin pernyataan Bunga itu. Perasaan dan hati Barry kini tengah terarah pada Gina.
Barry ditemani Tole berkunjung ke barak Gina, tak lama kemudian Tole meninggalkan mereka berbincang berdua. Adu pandang kembali terjadi. Dan keduanya sepakat untuk bisa melanjutkan percakapan lebih serius lagi setelah perjuangan berakhir, yaitu setelah pihak GEP memenuhi tuntutan relokasi bagi korban lumpur panas.
Ke Jakarta
Dalam sebuah rapat besar yang dihadiri berbagai kelompok, disepakati mereka bersama-sama segara melakukan unjuk rasa secara besar-besaran di Jakarta. Barry mencoba menenteramkan dan minta warga untuk berpikir panjang sebelum melakukan perjuangan ke Jakarta.
“Teman-teman, sebaiknya kita jangan membuang tenaga dan biaya sia-sia ke Jakarta. Ingat kita melawan “raksasa” dan janji pemerintah akan menyelesaikan masalah warga di sini. Sungguh bukan hal mudah untuk dapat menggelar aksi di ibu kota negera kita itu,” kata Barry.
Tetapi tekad anggota masyarakat sudah bulat.Berbagai koran memuat berita tentang keinginan masyarakat itu. Lantas pada hari yang telah ditentukan, mereka berbondong-bondong ke stasiun kereta api. Mereka dihadang petugas. Meski begitu, Gina ditemani Reni dan Tole berhasil lolos. Sebagian masyarakat juga lolos setelah melalui jalan pintas menuju gerbong kereta api.
Barry, Simon dan Hari serta kelompok Stifen kehilangan jejak Gina. Lalu mereka mencari-cari Gina ke berbagai penjuru Sidoarjo.
Di Jakarta Gina dan rombongannya telah ditunggu sebagian korban lumpur yang telah terlebih dulu sampai di Jakarta. Rombongan ke luar dari stasiun Senen langsung menuju patung proklamasi. Di sana mereka mendirikan tenda-tenda darurat.
Masyarakat yang bersimpati atas perjuangan mereka, tak segan-segan memberi bantuan berupa nasi bungkus dan air dalam kemasan.
Siang itu panas terik menyengat ibu kota Jakarta. Warga Sidoarjo ini semula melakukan unjuk rasa secara berkelompok, menuju gedung DPR dan istana Presiden. Lantas mereka berkumpul di depan Kantor Pusat PT GEP di kawasan Kuningan Jakarta, Selatan.
Gagal bertemu Presiden, rombongan massa dipimpin Gina menuju kantor pusat PT GEP. Setibanya di sana kelompok yang sebelumnya melakukan aksi di DPR tampak sudah menanti kelompok Gina.
Aparat keamanan PT GEP dibantu pihak Kepolisian tampak terus berusaha menghadang kelompok pendemo korban Lumpur Sidoarjo itu. Tameng dan pentungan memagari para pengunjuk rasa. Di belakang pasukan terdepan sebaris pasukan bersenjata lengkap dan di area parkir tampak mobil water canon beberapa unit.
Gina dan kawan-kawan serta Tole tidak merasa gentar dengan hadangan petugas.
Dari pengeras suara terdengar suara Gina dengan lantang meminta Adhi Ghana ke luar dari kantor lalu menemui mereka. Berulangkali pula dia menyatakan bahwa mereka datang dengan misi perdamaian.
Teriakan Gina jelas tak terdengar oleh Adhi Ghana, karena Adi tengah melakukan pembicaraan dalam rapat yang dihadiri para pemegang saham dan perusahaan pemilik konsesi serta pengacara Adhi Ghana. Rapat membicarakan tindak lanjut dari proyek yang kini digenangi lumpur panas.
Karena tidak ada reaksi dari PT GEP, pihak pendemo terus merangsek maju. Saat aksi saling dorong dengan petugas berlangsung, Gina dan Tole tampak terjepit, namun berhasil menghindar berkat bantuan seorang wartawan tv, kemudian membawanya menyelinap menerobos barisan pengaman.
Karena sang wartawan membawa kamera, petugas tidak menghadang mereka. Sampai di halaman wartawan tersebut kembali melakukan tugasnya. Gina dan Tole dengan penuh keberanian memasuki lobi kantor PT GEP yang dijaga ketat para Satpam.
“He Stop ! mau ke mana !!,” bentak salah seorang Satpam.
“Maaf pak saya mau ke toilet sebentar, adik saya sakit perut mau buang air besar,” tutur Gina. Gina dan Tole pun lolos dari hadangan Satpam, tapi mereka tidak ke toilet, melainkan naik lif.
“Mbak kita kemana ?,” tanya Tole.
“Entahlah,” jawab Gina ringkas.
Tiba-tiba pintu lif terbuka, beberapa orang Satpam juga naik lif. Gina dan Tole jadi gugup dan panik, tanpa pikir panjang mereka ke luar lif, terus berjalan menuju toilet di sisi lif. Beberapa Satpam yang berada di lobi mencoba mengejar Gina dan Tole, setelah mereka tahu kedua orang itu tidak berada di toilet lantai satu.
Kegaduhan terjadi di lantai dua. Satpam yang naik ke lif kembali ke luar dan mencoba mencari Gina dan Tole. Karena beberapa Satpam sudah berada di sana, suara gaduh dari teriakan beberapa Satpam menerobos ruang rapat, seorang staf Adhi Ghana melongok ke luar pintu ruang rapat, dan memerintahkan Satpam untuk tidak bertindak gaduh.
“Hei ada apa ini. Ribut-ribut, gerabak-gerubuk. Diam ! pelihara suasana tenang. Bos tengah rapat pada gak tau ya.! Ayo semua kembali ke pos masing-masing!,” bentak staf Adhi Ghana.
Gina dan Tole tak menyadari kini mereka berada di bawah meja hidangan peserta rapat. Mereka selalu waspada dan mengintai situasi dan kondisi.Tanpa pikir panjang lagi Gina menarik tangan Tole. Mereka menyeruak ke luar dari tempat persembunyian di bawah meja hidangan.
Taplak tertarik, piring gelas dan hidangan terjatuh menimbulkan suara berisik. Para Satpam dan staf Adhi Ghana tercengang, tak mengerti apa yang mesti dilakukan. Meski mereka melihat dua sosok tubuh manusia berlari cepat memasuki ruang rapat.
Gina dan Tole sudah berada di dalam ruang rapat. Segera dia mendekati meja Adhi Ghana yang didampingi Klarisa. Seluruh peserta rapat termangu. Gina berada tepat di hadapan Adhi Ghana.
Gina menyatakan dirinya adalah Ketua LSM Peduli Lingkungan dan juga korban lumpur panas. Tole diam saja, matanya menyapu isi ruangan. Di belakang tempat duduk Adhi Ghana, Gina juga Tole melihat terpampang foto besar susunan direksi PT GEP. Dalam foto itu, tampak Adhi Ghana duduk di sebuah kursi mewah di dampingi Komisaris Utama. Sementara di belakangnya ada beberapa orang berdiri.
Mata Gina dan Tole terantuk pada sosok seorang laki-laki muda gagah—ternyata dia adalah Barry. Tole terkejut sekaligus merasa bangga, karena ternyata sahabatnya itu adalah orang terpandang.
Beberapa Satpam dan staf Adhi Ghana berhamburan mendekati Gina. Tetapi langkah mereka terhenti. Adhi Ghana sambil berdiri dari kursinya dengan suara keras membentak: ”biarkan mereka berada di sini. Ini semua akibat kebodohan kalian ! Lekas tinggalkan ruangan ini!” tegasnya.
Gina terus memegang tangan Tole tanpa berkedip—terus menantang mata Adhi Ghana yang kini berdiri tepat dihadapannya.
“Bapak Adhi Ghana terhormat. Dalam kesempatan ini saya menyampaikan tuntutan penduduk desa yang kini menjadi miskin dan papa, kami menuntut ganti rugi berupa relokasi lengkap dengan rumah serta sarananya seperti milik kami di desa dulu,” kata Gina dengan tegas.
“Apakah tuan belum melihat penderitaan kami. Kami menderita karena ambisi bapak. Anak ini juga mejadi korban,” tandas Gina sambil menunjuk Tole.
Entah apa yang terjadi, dalam diri Tole pun muncul keberanian, lalu dengan lirih dia berkata: “Tuan, makam ke dua orang tua saya, gubuk tempat saya berteduh dan sekolah gratis semua sirna ditelan lumpur panas!”
Wajah Adhi Ghana tampak tegang, merah, semakin mengeras—lalu dia pun berteriak: ”Tinggalkan ruang rapat ini!!! Atau saya panggil petugas untuk mengusir kalian. Bukankah kalian sudah mengutarakan tuntutan !! Saya bukan orang tuli, semua sudah saya dengar!.”
Gina tetap berdiri mematung sambil memegang tangan Tole erat-erat. Entah datang dari mana semangat itu, Tole pun tak lagi merasa gentar. Setelah membentak, Adhi Ghana terdiam. HP yang baru saja dikeluarkannya dari saku jasnya di letakkannya di atas meja. Peserta rapat terdiam. Suasana ruang yang dingin terasa menjadi panas.
Adhi Ghana perlahan duduk kembali di kursinya. Dia lantas meneguk air meneral yang berada di mejanya. Wajahnya yang tadinya memerah, tegang, tampak berangsur mencair. Adhi Ghana kemudian terlihat tertunduk di kursinya.
Di benaknya muncul kembali kisah kanak-kanaknya penuh penderitaan, penderitaan yang juga dialami anak-anak lain saat perang kemerdekaan di dusun Kemusuk, Yogyakarta. Masih teringat jelas di benaknya betapa pedihnya ketika rumahnya dibakar Belanda.
Begitu Republik Indonesia di Proklamirkan Ir Soekarno dan Bung Hatta 17 Agustus 1945, dia termasuk anak yang beruntung, bisa mengenyam pendidikan sampai ke perguruan tinggi – buah dari ketekunannya—semua cita-citanya dapat dicapai.
Gina dan Tole tetap berdiri mematung di hadapan Adhi Ghana. “Sudahlah tuntutan kalian akan kami penuhi. Untuk kontrak rumah dan jaminan hidup telah kami penuhi beberapa waktu lalu. Dan kalian silahkan ke luar dari ruang rapat ini,” kata Adhi Ghana datar tanpa ekspresi.
Namun Gina dan Tole masih tetap berdiri di tempat. Gina terlihat menghela nafas dalam-dalam dan kemudian berkata: ”Saya tidak akan ke luar dari ruangan ini tanpa ada bukti bahwa tuan memenuhi tuntutan kami.”
Lalu dia menjelaskan, bukti tertulis merupakan hal teramat penting, karena sudah banyak janji diterima masyarakat, tetapi janji hanya tinggal janji, inilah.pemicu kemarahan warga.
Sejenak terlihat Adhi Ghana berpikir dan merenung. Lantas dia minta Klarisa mengambil selembar kertas. “Tolong kertas itu dibubuhi materai. Biar cepat saya tulis tangan saja,”
perintahnya dengan nada bersungguh-sungguh. Secarik kertas putih dengan materai berada di depan Adhi Ghana.
“Kalian lihat baik-baik. Saya menyatakan di sini PT GEP akan segera memenuhi tuntutan kalian. Bagi warga yang bisa membuktikan kepemilikan rumah dan lahan dan minta relokasi, akan segera kami relokasi lengkap dengan sarana dan prasarana. Demikian pula yang minta ganti rugi akan kami penuhi. Bila tidak jujur mereka akan menerima akibatnya,” katanya.
Usai membubuhkan tanpa tangannya Adhi Ghana menyerahkan secarik kertas itu kepada Gina. Gina menerima dengan kedua tangannya yang gemetar. Adegan itu disaksikan seluruh mata di ruang rapat itu. Sikap Adhi Ghana itu juga mengundang kekaguman para peserta rapat.
Senang, puas dan terharu. Perasaan itu seolah bergabung menjadi satu dalam diri Gina.. Gina merasa tiba-tiba tubuhnya lunglai. Dengan sekuat tenaga dia berusaha tetap berdiri. “Terima kasih tuan,” katanya sambil menahan air mata haru.
Tanpa berpikir panjang, Gina dan Tole membalik badan dan ke luar dari ruang rapat diantar sorot mata peserta rapat. Petugas Satpam tidak bergerak ketika mereka melewatinya. Sampai di lobi kegaduhan dan adu dorong usai sudah. Beberapa pengunjuk rasa serta Reni yang beberapa saat lalu mencari-cari Gina dan Tole, tertegun melihat Gina dan Tole ke luar dari lobi kantor mewah itu. Petugas pun memberi jalan pada Gina dan Tole berjalan menuju barisan pengunjuk rasa.
Melihat Gina dan Tole, suasana pengunjuk rasa yang tadinya hiruk pikuk pun menjadi hening, seluruh pandangan tertuju padanya. Gina kembali berada di depan disebuah mobil lengkap dengan pengeras suara.
Dibantu beberapa pengunjuk rasa Gina dan Tole naik ke atas mobil. Gina meraih pengeras suara……untuk menguatkan hati, Gina mengayunkan tinjunya ke udara sambil berteriak: kita harus kuat dan bersatu!!! Serentak pengunjuk rasa meneriakkan: kembalikan kehidupan kami ..!!!
“Sabar-sabar-sabar sebentar saudara-saudara, saya telah menemui Adhi Ghana.
Dia menyetujui tuntutan kita. Lihat-lihat ini, dia telah menulis dan menandatanganinya,” teriak Gina sambil mengibar-ngibarkan secarik kertas berisi tulisan Adhi Ghana.
Massa yang tadinya diam mendengarkan orasi Gina, spontan berteriak kegirangan. Mereka bersujud syukur, menari-nari, berteriak-teriak seperti orang gila—bergulingan kegirangan, saling berpelukan, berteriak Allahhu Akbar !! Ada pula yang berteriak puji Tuhan !! Massa menyerbu Gina dan Tole—keduanya dilelu-elukan bagai pahlawan pemenang perang.
Pasukan yang semula berwajah tegang, angker, dengan tameng di tangan kiri dan petungan di tangan kanan pun tampak tersenyum. Senjata laras panjang di tangan kembali disandang—mereka pun ikut tersenyum. Bahkan ada beberapa petugas berjabat tangan dengan pengunjuk rasa.
Unjuk rasa itu pun bubar dengan tertib. Beberapa mobil water canon tampak meninggalkan area parkir. Pasukan membubarkan diri lalu menuju truknya masing-masing.
Hampir seluruh media massa memuat berita keberhasilan Gina menaklukan Adhi Ghana. Seluruh masyarakat korban lumpur Sidoarjo yang menyaksikan TV dan membaca media cetak pun bersukaria. “Allah memberikan rahmat bagi umatnya yang sabar dan tawakal,” kata Ustad Tohir di tempat pengungsian.
Barry, Simon, dan Hari yang ikut menyaksikan keberhasilan Gina di layar TV, juga larut dalam kegembiraan. “Inilah buah dari kegigihan dan ketangguhan Gina,” tutur Barry sambil berdecak kagum.
Konflik Gina dan Barry
Para korban menanti kedatangan Gina dan kawan-kawannya di stasiun Sidoarjo. Stasiun tampak padat. Mereka ingin menyambut Gina. Reni dan Tole. Di antara penyambut tampak Barry, Simon dan Hari. Ustad Tohir, Stifen dan rekan-rekannya juga Rustam.
Saat kereta api tiba distasiun, sorak sorai gegap gempita mewarnai suasana stasiun itu. Mereka berteriak-teriak: ”Gina, Gina, Gina , Tole.. Tole !”
Dengan menggandeng Tole diikuti Reni, Gina ke luar dari salah satu gerbong kereta api. Dan mereka disambut dengan jabatan tangan. Gina tampak tersenyum, demikian pula Tole, Barry dan kawan-kawannya terlihat berusaha menyeruak massa—dan kini berhadapan dengan Gina.
Barry menjabat tangan Tole, kemudian tangannya diulurkan ke arah Gina. Gina menyambut dengan dingin. Senyum simpatiknya berubah menjadi sinis—Gina menatap tajam mata Barry.
Barry agak terkejut, dalam benaknya terbersit sebuah pertanyaan: apa gerangan yang terjadi. Sepulang dari Jakarta, kok sikap Gina berubah. Barry tidak lagi merasa teguran ramah dari Gina.
Gina, Tole dan Reni terus dikerumuni massa, hingga mereka ke luar dari pelataran stasiun. Kelompok Stifen dan Rustam serta kelompok Gina sepakat melakukan rapat bersama membahas surat pernyataan Adhi Ghana di barak Stifen di Pasar Baru Porong.
Barry mencoba menghubungi Gina melalui HP-nya, menawari jemputan untuk menghadiri rapat itu. Tetapi Gina menolak dengan nada sinis. Gina, Reni dan Tole menghadiri rapat gabungan tersebut, seperti biasa di sana juga hadir Barry dan para sahabatnya. Rapat dimulai, Gina memaparkan kembali hasil percakapannya dengan Adhy Ghana sambil menunjukkan kopi dari surat pernyataan Adhi Ghana, lalu menyerahkannya pada kelompok Stifen dan Rustam.
“Kita menunggu saja apa yang bakal terjadi, beberapa hari atau pekan mendatang,” tutur Gina, tanpa sengaja dia memandang Barry. Barry agak terkejut. Tole yang berada di samping Gina menyatakan rasa bangganya bersahabat dengan Barry.
”Mas Barry ternyata salah seorang petinggi PT GEP, saya melihat fotonya bersama pak Adhi Ghana,” katanya polos.
Peserta rapat terkejut. Tiba-tiba Gina berkata: ”Pantas Mas Barry ikut menghalangi kami berangkat ke Jakarta.” Kata Gina sinis.
Barry terkejut, wajahnya tampak memerah.
“Oh begitu, lantas sebetulnya apa mau pak Barry selalu bersama kita dan seolah mendukung perjuangan kita. Tolong Pak Barry memberikan alasan,” tutur Stifen, sambil memandang Barry dengan sinis.
Sebelum Barry menjawab, beberapa teman Stifen dan Rustam berteriak-teriak memaki dalam bahasa Jawa, terus maju mendekati Barry. Melihat gelagat kurang bersahabat itu, dengan sigap Hari dan Simon menarik tubuh Barry—Barry berdiri dari kursinya.
Tanpa sempat memberi jawaban, kelompok Stifen dan Rustam mengusir Barry dari ruang rapat itu. Mereka meneriaki Barry sebagai mata-mata GEP dan hanya berpura-pura mendukung warga.
Kali ini Gina pun bersikap keras terhadap Barry. Dia meminta Barry ke luar dari ruang rapat. Beberapa penduduk di sekitar ruang rapat juga berteriak-teriak menghujat dan mengusir Barry.
Tak sabar lagi akhirnya Barry bertanya: “Apa gerangan yang terjadi, kok aku diusir Gina.” Kini semua mata di ruang itu mengarah ke Gina, Gina dengan lantang membentak Barry.
”Ternyata kamu adalah salah seorang dari jajaran direksi PT GEP. Pantas jika kamu ikut menghalang-halangi kepergian kami ke Jakarta,” bentak Gina.
Barry berupaya memberikan pengertian terhadap Gina, tapi Gina terus menghujat. “Jangan sangkut pautkan keberhasilan ini dengan perjuangan kita bersama. Saya minta bukti dari janji PT GEP secepat mungkin,” teriak Gina.
Mendengar cekcok itu, warga dan pimpinan kelompok mendekati Barry dengan wajah garang. Tanpa pikir panjang lagi Simon dan Hari menarik tangan Barry, lalu menyeruak ke luar dari kerumunan warga untuk menyelamatkan diri. Barry yang semula dianggap sahabat oleh warga, kini posisinya berubah menjadi musuh warga. Beberapa orang berusaha memburu Barry dan kawan-kawannya. H Tohir berupaya menenteramkan massa yang berusaha mengejar Barry itu.
Barry dan sahabatnya segera melarikan mobil Hummer kuningnya. Massa yang mengejarnya semakin banyak. Mobil Barry dilempari batu. Untung tidak satu pun mengenai mobil kesayangan anak Adhi Ghana itu.
Barry dan sahabatnya memacu kendaraannya ke arah kota Surabaya. Di tengah perjalanan Barry menepikan mobilnya. Dia melompat turun diikuti Simon dan Hari. Barry mengayunkan tinjunya ke sebatang pohon pisang sambil berteriak: ”Kenapa ini mesti terjadi ! kenapa, kenapa dan kenapa !.”
Simon dan Hari hanya diam. Mereka bertiga kemudian duduk di atas rumput di bawah pohon rindang.
Kepergian Barry juga meninggalkan sesal mendalam di lubuk hati Gina. Tole juga menegur Gina. “Mbak kenapa mas Barry kita marahi. Bukankah selama ini dia berjuang bersama warga, membantu kesulitan kita?,” tanya Tole.
Teguran serupa juga dikemukakan H Tohir – pemuka agama yang disegani warga itu. Gina benar-benar merasa menyesal. Pertanyaan itu, tidak dijawabnya. Gina memilih menyingkir dan menyendiri.
Bertemu Barry
H Tohir makin sering menerima undangan untuk memberikan ceramah, di suatu siang yang terik, dia terlihat berkunjung ke Surabaya memenuhi undangan. Di tengah sengatan matahari yang mengeringkan tenggorakan itu, dia terkejut ketika matanya tak sengaja melihat mobil Hummer berwarna kuning di parkir di depan sebuah warung dekat kantor gubernur Jawa Timur.
“Mudah-mudahan itu Barry dan kawan-kawannya,” gumam H Tohir dalam hati. Ternyata benar H Tohir menemukan Barry di warung itu. Pertemuan mereka berlangsung hangat, H Tohir memintakan maaf warga yang mengejar Barry. Dia berpesan agar untuk sementara Barry tidak perlu muncul di Sidoarjo. “Saya kuatir akan keselamatan nak Barry,” ujarnya.
Hari itu H Tohir datang ke Surabaya karena diundang untuk membacakan doa atas akan dimulainya pembebasan sejumlah lahan untuk area relokasi bagi warga korban lumpur panas yang memintanya (kelompok Gina). Kegiatan ini dilakukan oleh sebuah perusahaan dari Jakarta.
Perusahaan tersebut milik ayah Bunga kawan dekat Barry. Ayah Bunga juga sudah mengenal Barry—tetapi kedua orang-tua Bunga menjodohkan Bunga dengan putra salah seorang sahabatnya. Bunga yang ikut dalam pertemuan itu kembali teringat Barry. Karena menurut beberapa media cetak yang pernah dibacanya, Barry ikut berjuang bersama warga menentang PT GEP.
Bunga ke luar ruangan dan mencoba menghubungi HP Barry. Tetapi HP Barry tak dapat dihubungi. Dari berita yang disiarkan berbagai media, Bunga mengetahui kondisi Barry saat ini.
Dia kembali duduk di ruang rapat menyaksikan penandatanganan kontrak antara Ayahnya dengan Pemkab Sidoarjo. Lamunan Bunga menerawang jauh, terutama menyangkut saat-saat indah bersama Barry. Sebetulnya Bunga merasa kurang cocok dengan hobi Barry yang gemar berpetualang naik turun gunung. Hingga suatu ketika ayahnya memintanya memutuskan hubungan asmara dengan Barry. “Cukup bersahabat saja,” begitu pesan ayah Bunga.
Dalam perjalanan ke Jakarta Bunga bercerita tentang Barry kepada ayahnya. Ayah bunga yang bersimpati kepada Barry mencoba menghubungi Barry. Kali ini Barry mengangkat telepon ayah Bunga.
“Barry apa kabar nak?,” sapa ayah Bunga. Barry menuturkan sedikit pengalamannya dan perjuangannya dengan warga Sidoarjo. Mereka sepakat melakukan pertemuan di Jakarta. Ayah Bunga akhirnya menyerahkan penggarapan relokasi warga kepada Barry. Dalam kesempatan itu pula Bunga dan Barry sempat saling mencurahkan isi hati mereka.
Mereka bersepakat melanjutkan hubungan sebagai saudara.
Ganti Rugi dan Relokasi
Di suatu pagi yang cerah, masyarakat korban lumpur panas menerima kabar bahwa PT GEP segera mencairkan uang muka ganti rugi sebesar 20 persen. Baik bagi para korban yang menerima ganti rugi 100 persen maupun yang memilih relokasi. Untuk mendapat kucuran dana tersebut, para korban harus menunjukkan bukti kepemilikan rumah dan tanahnya.
Masyarakat mulai bingung mencari-cari legalitas kepemilikan itu. Kasak-kusuk mulai bergulir. Ada oknum RT, RW, Lurah, Camat hingga aparat BPN yang mencoba memanfaatkan situasi. Uang pelicin berhamburan. Ada yang merasa senang dan ada yang berduka karena uang pelicinnya tidak membuahkan hasil secarik kertas pun.
Kelompok Stifen tidak terlalu bingung karena surat-surat rumah dan tanahnya masih berada di bank. Keadaan mulai kisruh, kelompok Rustam melanjutkan unjuk rasa dengan melakukan berbagai kekerasan. Mereka sempat merusak sarana dan prasarana kantor kelurahan.
Gina serta kelompok LSM lain dibantu H Tohir tampil meredakan suasana. Kelompok Gina didampingi H Tohir kembali menggelar unjuk rasa damai, untuk melakukan koreksi terhadap sikap-sikap oknum aparat yang tidak terpuji itu.
Kelompok Stifen dan Rustam serta sebagian warga merasa gembira dan lupa diri. Uang muka sebesar 20 persen mereka hambur-hamburkan. Uang itu dibelikan mobil bekas,
motor dan barang-barang lain yang sebetulnya tidak dibutuhkan. Kelompok Stifen dan Rustam hampir setiap malam berada di diskotek kota Surabaya. Gaya hidup hura-hura ini juga diikuti kelompok warga yang minta ganti rugi cash and carry.
Sementara kelompok warga yang menghendaki relokasi, tetap hidup apa adanya. Gina bersama Tole hidup di barak pengungsian. Tole kembali sekolah dan sebagian uang miliknya di tabung di bank.
PT GEP belum memenuhi janjinya untuk memberikan ganti rugi secara utuh (pembayaran 80 persen). Sementara warga yang menghendaki relokasi menerima pengumuman bahwa relokasi tengah dipersiapkan di suatu daerah—letaknya tak jauh dari kota Sidoarjo. Gina dan kelompoknya tetap sabar menunggu rumah mereka siap dibangun.
Unjuk rasa terus berlangsung, karena ternyata janji pelunasan ganti rugi yang 80 persen sebagaimana ditetapkan pemerintah tak dipenuhi PT GEP sampai Pemilu 2009, alasannya pun sulit diterima warga. Dengan bayangan yang semakin tidak jelas, banyak di antara korban Lumpur kelihatan frustrasi, bahkan ada di antaranya meninggal dunia.
Sesekali masih tampak Gina berada diujung tombak unjuk rasa dengan misi melindungi kepentingan masyarakat. Ketenteraman masyarakat menjadi tuntutan Gina dan kelompoknya.
Barry Kembali Rebut Simpati
Beruntunglah kelompok Gina, karena tuntutan mereka untuk relokasi sudah terlebih dulu dipenuhi.
Bayang-bayang Gina terus menghantui Barry. Tetapi Barry mencoba bertahan untuk tidak menemui Gina. Ditemani Hari dan Simon, Barry memimpin ratusan pekerja membangun rumah layak huni—para pekerja nyaris bekerja 24 jam sehari semalam. Dari pematangan lahan hingga pembangunan rumah-rumah mungil cantik di lahan yang semula merupakan sawah tadah hujan.
Sesekali ayah Bunga ditemani Bunga memeriksa pekerjaan Barry dan teman-temannya. Kadang kala terlihat Barry hanya berdua dengan Bunga berjalan-jalan dengan mobil Hummer kuning mengelilingi kawasan perumahan baru itu. Apa yang dibicarakan antara ke dua insan itu, hanya mereka berdua mengetahuinya. Hari dan Simon beranggapan Barry dan Bunga kembali dalam suatu ikatan cinta.
Menjelang hari peresmian kompleks perumahan tempat relokasi warga yang terkena lumpur panas itu, Ayah Bunga mengundang seluruh jajaran pemda termasuk tokoh agama H Tohir untuk rapat peresmian. Sebelum melakukan rapat, seluruh peserta rapat melakukan peninjauan keliling.
H Tohir terkejut dan merasa amat gembira menemui Barry, Hari dan Simon tengah menyambut para peserta rapat. Di sana juga tampak Bunga. Spontan H Tohir memeluk Barry dan berkata: ”Ternyata kalian bekerja keras di sini. Lagi-lagi untuk kami.”
Kemudian rapat berlangsung. Setelah ditentukan hari peresmian, maka ditentukan pula tiga orang penerima kunci secara simbolis. Mereka itu adalah, H Tohir, Gina dan Tole.
Umbul-umbul dan spanduk selamat datang mewarnai gerbang masuk kompleks perumahan relokasi itu. Sebuah panggung besar dengan hiasan meriah berdiri megah di depan tenda besar yang sarat dengan tempat duduk.
Di hari yang berbahagia itu, satu per satu kursi mulai diduduki para korban lumpur panas yang datang dengan bus. Banyak pula di antaranya datang menggunakan sepeda motor. Barry, Simon dan Hari kali ini menggunakan pakaian seragam proyek lengkap dengan helm proyek berwarna putih.
Bupati dan jajaran pemda sudah hadir didampingi H Tohir. Sementara di bangku terdepan juga tampak Gina dan Tole. Mengenakan pakaian rapi. Ke dua pahlawan masyarakat ini memang sudah diberi tahu bahwa mereka bakal menerima kunci sebagai penerima rumah relokasi secara simbolis.
Acara dimulai. Barry tak tahan ingin segera menemui Gina. Namun, kawan-kawan Barry mencegahnya. Mereka kuatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
”Bar lu nanti menyerahkan kunci ke Gina. Gue berdua ke Tole. Sabarlah bentar,” tutur Simon. Ketiganya tampak gelisah di belakang panggung.
Dalam kata-kata sambutannya Ayah Bunga menyatakan terima kasih serta penghargaan kepada pelaksana proyek yang terdiri dari tiga pemuda. Mereka, adalah Barry, Simon dan Hari.
Masyarakat yang tengah bergembira menyaksikan deretan rumah yang bakal menjadi miliknya tidak mendengar ucapan Ayah Bunga. Mereka asyik menoleh ke kanan dan ke kiri menyaksikan rumah-rumah tertata rapi. Gina dan Tole sempat saling berpandangan mendengar nama-mana itu disebutkan.
Tibalah saatnya penyerahan kunci secara simbolis, disaksikan Bupati, H Tohir menerima kunci dari Ayah Bunga. Gina menerima kunci dari Barry dan Tole menerima kunci dari Hari dan Simon. Adegan di panggung disaksikan warga masyarakat.
Dengan spontan masyarakat yang sempat memusuhi Barry dan kawan-kawannya, berteriak mengelu-elukan Barry dan kawan-kawannya. Barry, Gina, Tole, Hari serta Simon yang turun dari panggung diserbu masyarakat. Mereka berebut berjabat tangan dengan Barry. Simon dan Hari.
“Hai Bar, mana pahlawan yang engkau ceritakan itu,” sapa suara halus sambil menepuk pundak Barry.
Barry pun menoleh, sambil berkata: “Oh ya Bunga, sini ikut aku,” ajak Barry sambil menggandeng tangan Bunga mendekati Gina.
Gina yang melihat adegan tersebut merasa agak cemburu, namun berusaha menyembunyikan perasaannya. Sebelum dia sempat mengucapkan kata sepatah pun Barry pun memperkenalkan Bunga dan tanpa mengucapkan kata sepatah pun keduanya bersalaman.
“Sebaiknya kita melihat rumah kamu Gina, juga Tole,” ajak Barry. Gina tampak agak berat melangkahkan kakinya, namun di hatinya dia tak mau merusak suasana hanya karena rasa cemburunya melihat Barry menggandeng Bunga, apalagi setelah melihat hasrat Tole begitu menggebu-gebu dengan pancaran wajah sangat bahagia penuh gairah.
Barry, Bunga, Gina, Tole, Simon dan Hari, meninggalkan arena acara. Dengan Hummer kuning mereka mengelilingi kompleks yang lumayan luas itu, lengkap dengan fasilitas umum seperti taman, lapangan bermain. Juga ada fasilitas sosial dan agamanya, seperti Puskesmas dan Masjid, walau kelihatan sederhana tapi bersih.
Dalam perjalanan saat mengitari kawasan pemukiman baru itu, Barry memperkenalkan Bunga pada Gina sebagai sahabat baik, anak dari pemilik perusahaan pembangunan proyek relokasi yang kini mereka kitari.
“Ayah Bungalah yang meminta aku untuk membangun kawasan ini, mulai dari land clering, pembuatan desain, sampai memimpin pembangunan perumahannya, atas rekomendasi Bunga,” jelas Barry.
Gina hanya tampak mengangguk, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Wajahnya kelihatan agak sedikit tegang, Barry tak begitu memperhatikan karena dia sibuk melihat kiri kanan dan lalu menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mungil.
“Gina ini rumah mu,” kata Barry. Mereka pun turun dari mobil. Simon dan Hari menyeberang jalan untuk menunjukkan rumah milik Tole berukuran lebih kecil.
Barry minta kunci pada Gina, lalu membuka pintu rumah dan masuk, diikuti Gina dan Bunga. Ruang tamunya kelihatan telah di tata asri.
“Siapa yang menata Bar,” tanya Bunga menggoda. Gina pun melempar senyum yang tampaknya agak dipaksanakan. Barry memegang tangan Gina, Gina tersentak sambil mencuri pandang pada Bunga. Bunga kelihatan cuwek dan tak memperlihat ekspresi cemburu atau terganggu, Gina pun mulai merasa gembira. Kemudian dia pun memegang tangan Barry.
“Barry, ternyata keluarga Adhy Ghana adalah orang-orang yang memiliki tanggung-jawab moral tinggi ya? Penghargaan warga sepantasnya diberikan juga kepada kamu,” tutur Gina sambil memeriksa ruang yang telah dilengkapi berbagai perabotan oleh Barry.
Barry kemudian pamit, meninggalkankan Gina dan Bunga yang tengah asyik meneliti rumah dan isinya itu. Barry menuju rumah mungil Tole. Tole memeluk Barry.
“Ayah dan ibuku pasti bahagia bila mereka melihat ini semua,” tutur Tole berlinang air mata. Hari memecahkan suasana haru itu, sambil tersenyum berkata: ”Tole apa kamu siap menyunting seorang perempuan? Kan rumah sudah lengkap dengan isinya. Ha….ha…ha..!”
Dalam hati Gina merasa sangat bersyukur, rasanya saat itu juga dia ingin sujud syukur, cuma malu sama Bunga. Mereka berdua kemudian mengobrol di ruang tamu untuk saling mengenal lebih jauh akan jati-diri masing-masing. Namun untuk menanyakan sampai sejauh mana hubungan Bunga dengan Barry, Gina merasa tidak punya keberanian.
Tole asyik di ruang tidur. Barry, Bunga, Simon dan Hari kembali ke atas mobil Hummer kuning dan meninggalkan Gina dan Tole.
Lalu kapan warga yang meminta ganti rugi cash and carry menerima haknya secara penuh. Warga yang dipimpin Stifen dan Rustam tentu tidak akan tinggal diam, akan terus berjuang menuntut hak hak mereka.
Suasana di perkampungan relokasi makin malam terlihat makin marak, karena malamnya warga melakukan pesta syukuran yang juga dihadiri keluarga Adhi Ghana. Adhi Gana sendiri berharap Barry dan kawan-kawannya hadir dalam pesta syukuran itu. Demikian juga Gina dan Tole.
Tetapi mereka mesti menelan rasa kecewa karena yang mereka cari tidak hadir dalam pesta syukuran itu. H Tohir dalam pesta tersebut memberikan wejangan sebelum membacakan doa .Tokoh agama berpengaruh ini meberikan berbagai nasihat agar warga mensyukuri nikmat Allah SWT, karena harapan mereka memperoleh tempat tinggal kembali setelah rumah mereka hilang ditelan Lumpur telah terpenuhi.
Dia juga mengajak masyarakat untuk sama-sama mendoakan agar saudara senasib lainnya yang belum menerima uang ganti rugi 80 persen lagi segera dipenuhi, agar teragedi kemanusiaan yang sangat mengerus perasaan itu segera berakhir.
Barry dan sahabatnya ternyata tidak pergi jauh, dari wilayah Sidoarjo. Dia tetap melakukan penelitian bersama sekelompok ahli geologi dari berbagai universitas. Barry dan para sahabatnya, sengaja melakukan hal tersebut agar peristiwa semburan lumpur panas tidak kembali terjadi di wilayah Indonesia.
Lumpur terus menyembur, daratan terus amblas. Semburan lumpur telah mengakibatkan dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur.
Genangan lumpur mencapai 6 meter pada pemukiman, total warga yang dievakuasi lebih dari 8.200 jiwa. Rumah/tempat tinggal yang rusak tak kurang dari 1.683 unit, areal pertanian dan perkebunan yang berubah menjadi areal lumpur lebih dari 200 ha.
Lebih dari 15 pabrik terpaksa menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan lebih dari 1.873 pekerjanya. Sarana pendidikan tak lagi dapat digunalan. Kerusakan lingkungan wilayah yang tergenangi merusak sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan telepon), mengakibatkan ruas jalan tol Malang-Surabaya terhambat hingga mengakibatkan aktivitas produksi di kawasan Ngoro (Mojokerto) dan Pasuruan yang selama ini merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur, ikut lumpuh.
Lumpur juga berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Kandungan logam berat (Hg), misalnya, mencapai 2,565 mg/liter Hg, padahal baku mutunya hanya 0,002 mg/liter Hg. Hal ini menyebabkan infeksi saluran pernapasan, iritasi kulit dan kanker. Kandungan fenol bisa menyebabkan sel darah merah pecah (hemolisis), jantung berdebar (cardiac aritmia), dan gangguan ginjal.
Selain perusakan lingkungan dan gangguan kesehatan, dampak sosial banjir lumpur tidak bisa dipandang remeh. Karena sampai Pemilu 2009 tidak terlihat perbaikan kondisi, baik menyangkut kepedulian pemerintah, terganggunya pendidikan dan sumber penghasilan, ketidakpastian penyelesaian ganti rugi tanah dan rumah warga yang 80 persen lagi belum dipenuhi.
Tekanan psikis yang bertubi-tubi, krisis sosial mulai mengemuka. Perpecahan warga mulai muncul menyangkut biaya ganti rugi, teori konspirasi penyuapan oleh Lapindo, rebutan truk pembawa tanah urugan hingga penolakan menyangkut lokasi pembuangan lumpur setelah skenario penanganan teknis kebocoran (menggunakan snubbing unit) dan (pembuatan relief well) mengalami kegagalan. Semuanya memunculkan konflik horisontal.
Ada tiga aspek yang menyebabkan terjadinya semburan lumpur panas tersebut. Pertama, adalah aspek teknis. Pada awal tragedi, Lapindo bersembunyi di balik gempa tektonik Yogyakarta yang terjadi pada hari yang sama. Hal ini didukung pendapat yang menyatakan bahwa pemicu semburan lumpur (liquefaction) adalah gempa (sudden cyclic shock) Yogya yang mengakibatkan kerusakan sedimen.
Namun hal itu dibantah oleh para ahli, bahwa gempa di Yogyakarta yang terjadi karena pergeseran Sesar Opak tidak berhubungan dengan Surabaya. Argumen liquefaction lemah karena biasanya terjadi pada lapisan dangkal, yakni pada sedimen yang ada pasir-lempung, bukan pada kedalaman 2.000-6.000 kaki.
Lagipula, dengan merujuk gempa di California (1989) yang berkekuatan 6.9 Mw, dengan radius terjauh likuifaksi terjadi pada jarak 110 km dari episenter gempa, maka karena gempa Yogya lebih kecil yaitu 6.3 Mw seharusnya radius terjauh likuifaksi kurang dari 110 Km.
Akhirnya, kesalahan prosedural yang mengemuka, seperti dugaan lubang galian belum sempat disumbat dengan cairan beton sebagai sampul.Hal itu diakui bahwa semburan gas Lapindo disebabkan pecahnya formasi sumur pengeboran. Sesuai dengan desain awalnya, Lapindo harus sudah memasang casing 30 inchi pada kedalaman 150 kaki, casing 20 inchi pada 1195 kaki, casing (liner) 16 inchi pada 2385 kaki dan casing 13-3/8 inchi pada 3580 kaki.
Ketika Lapindo mengebor lapisan bumi dari kedalaman 3580 kaki sampai ke 9297 kaki, mereka belum memasang casing 9-5/8 inci. Akhirnya, sumur menembus satu zona bertekanan tinggi, hingga menyebabkan kick, yaitu masuknya fluida formasi tersebut ke dalam sumur.
Sesuai dengan prosedur standar, operasi pemboran dihentikan, perangkap Blow Out Preventer (BOP) di rig segera ditutup & segera dipompakan lumpur pemboran berdensitas berat ke dalam sumur dengan tujuan mematikan kick.
Namun, dari informasi di lapangan, BOP telah pecah sebelum terjadi semburan lumpur. Jika hal itu benar maka telah terjadi kesalahan teknis dalam pengeboran—berarti pula telah terjadi kesalahan pada prosedur operasional standar.
Kedua, aspek ekonomis. Lapindo Brantas Inc. adalah salah satu perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang ditunjuk BP-MIGAS untuk melakukan proses pengeboran minyak dan gas bumi. Saat ini Lapindo memiliki 50% participating interest di wilayah Blok Brantas, Jawa Timur. Dalam kasus semburan lumpur panas ini, Lapindo diduga “sengaja menghemat” biaya operasional dengan tidak memasang casing. Jika dilihat dari perspektif ekonomi, keputusan pemasangan casing berdampak pada besarnya biaya yang dikeluarkan Lapindo.
Medco, sebagai salah satu pemegang saham wilayah Blok Brantas, dalam surat bernomor MGT-088/JKT/06, telah memperingatkan Lapindo untuk memasang casing (selubung bor) sesuai dengan standar operasional pengeboran minyak dan gas. Namun, entah mengapa Lapindo sengaja tidak memasang casing, sehingga pada saat terjadi underground blow out, lumpur yang ada di perut bumi menyembur ke luar tanpa kendali.
Ketiga, aspek politis. Sebagai legalitas usaha (eksplorasi atau eksploitasi), Lapindo telah mengantongi izin usaha kontrak bagi hasil/production sharing contract (PSC) dari Pemerintah sebagai otoritas penguasa kedaulatan atas sumberdaya alam.
Poin inilah yang paling penting dalam kasus lumpur panas ini. Pemerintah Indonesia telah lama menganut sistem ekonomi neoliberal dalam berbagai kebijakannya. Alhasil, seluruh potensi tambang migas dan sumberdaya alam (SDA) “dijual” kepada swasta/individu (corporate based).
Orientasi profit an sich yang menjadi paradigma korporasi menjadikan manajemen korporasi buta akan hal-hal lain menyangkut kelestarian lingkungan, peningkatan taraf hidup rakyat, bahkan hingga bencana ekosistem.
Di Jawa Timur saja, tercatat banyak kasus bencana yang diakibatkan lalainya para korporat penguasa tambang migas, seperti kebocoran sektor migas di kecamatan Suko, Tuban, milik Devon Canada dan Petrochina (2001); kadar hidro sulfidanya yang cukup tinggi menyebabkan 26 petani dirawat di rumah sakit.
Kemudian kasus tumpahan minyak mentah (2002) karena eksplorasi Premier Oil. Yang terakhir, tepat 2 bulan setelah tragedi semburan lumpur Sidoarjo, sumur minyak Sukowati, Desa Campurejo, Kabupaten Bojonegoro terbakar. Akibatnya, ribuan warga sekitar sumur minyak Sukowati harus dievakuasi untuk menghindari ancaman gas mematikan. Pihak Petrochina East Java, meniru modus cuci tangan yang dilakukan Lapindo, mengaku tidak tahu menahu penyebab terjadinya kebakaran.
Kawasan konsesi kini menjadi kawasan wisata. Karena banyak orang yang melintas di wilayah tersebut ingin mengetahui dan melihat dari dekat apa sebenarnya yang terjadi.
Di atas tanggul yang makin melebar kini berjajaran motor ojek, Sang pengojek kebanyakan warga korban Lumpur Lapindo. “Mari pak saya antar keliling,” tutur salah seorang pengojek. Dalam perjalanan berkeliling, kadang kala pengojek menghentikan motornya dan bercerita tentang wilayah yang kini sudah tenggelam.
“Itu lho pak yang kelihatan gentengnya. Tadinya saya tinggal di sana,” kata pengojek sambil tersenyum getir.
Sesekali Tole tampak dengan sepeda berkeliling di atas tanggul, dia ingin melihat bekas rumahnya dan makam ke dua orangtuanya yang sudah tidak tampak lagi. Ketika dia berdiri di tepi genangan lumpur ada pengguna jasa ojek menghampirinya. Dan bertanya:
”apa yang kamu lihat nak.“
“Saya melihat bekas makam orang tua saya, itu di sana di bawah pohon yang masih menyembul tapi sudah kering.Itu lho,” jawab Tole.
Di deretan pengojek itu, tampak Stifen dan Rustam serta kawan-kawannya. Untuk menyambung hidupnya, kini mereka terpaksa menjadi pengojek.
Lumpur tak kunjung berhenti menyembur dari perut bumi. Unjuk rasa kadang kala masih saja berlangsung, tututan belum juga membuahkan hasil, entah sampai kapan.
Hummer kuning kadang kala muncul di atas tanggul, Barry, Hari dan Simon tampak mengamati semburan lumpur panas yang semakin banyak sumbernya.
Gina terlihat duduk sendirian di rumah mungilnya, bayangan Barry terus menghantuinya, semakin dia berusaha melawannya, semakin nyata bayangan itu. Terkadang ada rasa sesal di dadanya, karena telah berburuk sangka terhadap sikap Barry. Mungkinkah Barry akan kembali dalam keseharianku? Tanyanya dalam hati.
Malam itu di langit terlihat bintang-bintang bertaburan, bulan pun bercahaya redup. Suasana seputar perkampungan relokasi terasa makin sepi, suara binatang malam, terkadang terdengar bagaikan simponi alam yang menina-bobokan.
Namun bagi Gina rasa sepi makin mencengkram, bayangan Barry terus menghantuinya. Dia merindukan masa-masa yang menggetarkan hati dalam suasana demo bersama. Dia merindukan tatapan Barry yang terasa menusuk langsung ke jantungnya, adakah Barry merasakan getaran yang ada di dadaku, lirihnya.
Tiba-tiba dia melihat sebuah leptop di atas sopanya, dia pun ingat saat Barry menunjukkan rumah yang sekarang ditempatinya itu, Barry meletakkannya di situ, mungkin dia kelupaan, pikir Gina.
Hasratnya untuk membuka leptop Barry tak bisa ditahannya. Gak salah juga aku coba lihat leptopnya, mana tau bisa buka email, pikirnya. Gina pun menyadari, sudah sejak bebera bulan ini dia tak sempat lagi datang ke warung internet untuk membuka emailnya.
Seluruh aliran darahnya terasa menyembur ke otak besar dan otak kecilnya. “Kok bisa?” Tanya Gina bergumam sendiri. Matanya pun tak berkedip, jantungnya terasa mau berhenti berdegup, begitu dia buka leptop tersebut yang dia lihat di layarnya adalah foto dirinya dalam suatu kegiatan bersama Barry, di bawah foto tertulis kata-kata: aku bersama rekan, sahabat dan calon teman hidupku Gina.
“Kapan dia ngambil foto ini, lalu apa alasannya menjadikannya sebagai tampilan utamanya di layar leptop ini???”
Dia-diam Gina semakin yakin dengan perasaannya. “Bahwa aku tak bertepuk sebelah tangan, cintaku bersemi saat aku tak tahu kalau Barry itu anak seorang konglomerat, artinya cintaku murni bukan karena harta…” pikir Gina lalu beranjak ke tempat tidur sambil memeluk leptop milik Barry.
Di seberang jalan, tepatnya di teras rumah Tole, terdengar Tole sedang asyik memetik gitar, mendendangkan lagu: Terima Kasih Cinta, lagu yang pernah hit dinyanyikan Afghan. (Selesai)***
Lumpur Cinta:
Ide cerita, Naldy Nazar Haroen (Ketua Umum BUMN Watch)
Tokoh :
Barry
Gina
Adhi Ghana
H Tohir
Pendukung:
Klarisa
Tole
Simon
Hari
Stifen
Rustam
Bunga
Ayah Bunga
Sinopsis :
Keluarga Adhy Ghana pemegang saham perusahaan nasional pengeboran minyak dan gas bumi PT GEP. Perusahaan ini membeli saham tambang minyak dan gas bumi milik (konsesi) asing di kawasan Jawa Timur.
Adhi Ghana selaku Presdir, Klarisa anak sulung Adhi Ghana sebagai wakil presdir, Barry anak bungsu Adhi Ghana direktur operasional perusahaan tersebut.
Konflik kepentingan dalam keluarga Ghana. Adhi dan Klarisa merealisasikan pembelian saham sebuah perusahaan tambang, karena tergiur pada bayangan keuntungan besar dikemudian hari.
Barry sarjana geologi melihat pembelian saham pertambangan itu hanya bakal merugikan perusahaan. Karena berdasarkan data yang dimilikinya ketika di bangku kuliah—menunjukkan bahwa bila dilakukan pengeboran secara tidak hati-hati akan memicu bencana. Karena lokasi pertambangan berada di lempeng patahan Asia dan di dasar lokasi terdapat gunung lumpur yang rentan getaran dan gempa tektonik.
Perselisishan pun terjadi di keluarga Ghana. Barry menyingkir dari keluarga dan mencoba membuktikan secara ilmiah tentang pendapatnya.
Eksplorasi berlangsung. Penelitian berlangsung pula. Lumpur menyembur. Konflik pun terjadi di lapangan.
Ketenteraman masyarakat terusik oleh luberan lumpur panas. Rakyat yang rumahnya digenangi lumpur berubah menjadi rakyat yang pemarah. Rakyat secara mandiri dengan cara tersendiri mencoba menyumbat lumpur dengan berbagai acara ritual, tapi hasilnya nihil, luapan Lumpur malah makin menggila.
Gina muncul dengan kawan-kawannya serta tokoh masyarakat menggelar aksi untuk menuntut penghentian eksplorasi hingga tuntutan ganti rugi.
Barry,. Hari dan Simon berkenalan dengan Gina lantaran Simon sebagai wartawan dan fotografer meliput berbagai kegiatan massa. Mereka bergabung dalam aksi massa. Tole, anak yatim yang papa muncul sebagai salah satu symbol kepedihan masyarakat yang tengah dilanda musibah.
Perjuangan massa mengalami kebuntuan. PT GEP hanya berjanji tanpa bukti. Massa frustasi. Perjuangan mengendur. Saat itulah Barry muncul memberikan dorongan dan menyuntikkan dana perjuangan. Massa kembali bangkit berjuang. Pemerintah turun-tangan.
Kisah kasih Barry dan Gina
Kebijakan dirasakan kurang adil. Massa tertekan. Gina ditemani Tole berangkat ke Jakarta bersama massa yang berangkat sendiri-sendiri. Unjuk rasa di depan kantor PT GEP berlangsung ricuh. Gina dan Tole menerobos masuk ke ruang rapat Adhi Ghana.
Akhirnya Adhi menyerah dan menandatangani pernyataan kesediaan memberikan ganti rugi relokasi.
Gina dan Tole disambut dan dielu-elukan massa yang menunggu di luar gedung megah dan mewah itu.
Bersamaan dengan kedatangannya ke kantor PT GEP, Gina mengetahui ternyata Barry anggota keluarga Adhi Ghana karena selintas dia melihat foto keluarga Adhi Ghana di pasang di ruang rapat.
Setibanya di Sidoarjo. Barry yang menyambut kedatangan rombongan terlibat konflik dengan Gina. Massa juga menuding Barry sebagai musuh dalam selimut—Barry dikejar-kejar massa. Simon dan Hari melindungi Barry yang terus dikejar massa. Barry menghilang dari Sidoarjo.
Diam-diam Gina merindukan Barry. Barry demikian pula—Barry dengan dukungan pemerintah daerah tengah membangun proyek yang kelak diperuntukan bagi rakyat yang memilih relokasi.
Lumpur terus menyembur, tanggul terus meninggi dan melebar. Masayarakat Sidoardjo dengan sabar menanti apa yang bakal terjadi. Dalam penantian itulah, berbagai cita-cita muncul dibenak mereka.
Peresmian relokasi berlangsung. Gina terkejut ketika Barry muncul sebagai salah seorang pemuda yang dikatakan Bupati sebagai pioneer kawasan baru bagi masyarakat Sidoarjo yang memilih relokasi.
Barry kembali dielu-elukan masyarakat. Gina pun ikut mengagumi Barry. Mereka kembali bersama membina masyarakat di area relokasi.***

