• Home
  • Aktivitas
    • Aksi&Demo
    • Kegiatan Kepala Negara
  • Ekonomi
    • Agribisnis
    • APBN
    • BUMN
    • Ketenagakerjaan
    • Koperasi&UKM
    • Lingkungan Hidup
    • Transportasi
  • HANKAMNAS
    • Bela Negara
    • Komentar&Wacana
    • Terorisme
  • Hukum&Politik
    • HAM
    • Luar Negeri
    • UU&Konstitusi
  • Opini
  • Senggang
    • Novel
  • Tentang Kami
  • Tokoh
  • Tragedi
    • Aksi Kemanusiaan
    • Bencana Alam
    • Fenomena
  • Video
  • Warta Top
BUMN

Kontribusi BUMN Pada Negara Rendah

Diterbitkan pada 22 Juli 2010 oleh B- Watch

Kontribusi badan usaha milik negara terhadap negara selama ini masih rendah, sebab dari 132 BUMN yang ada pada 2009 hanya memberi pemasukan sebanyak Rp86,32 triliun, kata pakar manajemen Tanri Abeng.
Berbicara dalam Forum Komunikasi BUMN Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Semarang, Kamis, ia menyatakan China yang hanya memiliki 131 BUMN, tahun lalu memberi kontribusi sekitar Rp1.500 triliun.
Seharusnya BUMN Indonesia bisa memberi pemasukan negara lebih besar dari sekarang bila kondisi mayoritas badan usaha pelat merah ini memang sehat dan menguntungkan.
Menurut dia, rendahnya sumbangan tersebut disebabkan hanya sebagian kecil BUMN yang tak mampu meraih keuntungan signifikan.
Dari 132 BUMN, kata mantan Menteri Negara BUMN itu, keuntungan 13 BUMN mendominasi setoran ke kas negara dengan jumlah Rp73,74 triliun atau 85,4 persen dari total keuntungan seluruh BUMN. Ke-13 BUMN itu antara lain PT Pertamina, PT Telkom, PT PLN, BRI, Bank Mandiri, dan lainnya.
Sementara itu, 119 BUMN lainnya hanya sedikit memberi keuntungan secara signifikan, bahkan belasan BUMN selama ini mengalami kerugian beruntun.
Terhadap BUMN yang merugi terus-menerus, Tanri mengatakan, sebaiknya perusahaan ini dilepas atau dijual kepada swasta karena boleh jadi dilihat dari skala usahanya memang tidak sekelas sebagai BUMN.
Namun, katanya, pemerintah juga harus melihat lebih saksama terhadap keberadaan perusahaan, apakah mereka merugi karena tidak bisa berkembang akibat terbentur permodalan atau masalah mismanajemen.
Ia memberi contoh, PTPN di Sulawesi sebenarnya bisa berkembang bila perusahaan perkebunan ini ditarik dalam sebuah “holding” sehingga posisi tawarnya pada bank bisa lebih kuat untuk mendapatkan tambahan modal usaha.
Tanri mengingatkan, pemerintah harus berpikir realistis dan bertindak cepat agar kerugian yang dialami belasan BUMN tersebut tidak berlanjut.
“Pemerintah harus segera bertindak jika memang menyadari sebagian besar BUMN yang merugi tersebut harus dijual,” katanya.
Ia menambahkan hasil privatisasi dapat digunakan untuk mengembangkan sektor-sektor BUMN yang direstrukturisasi.
Tanri menilai ada kesalahan pengertian soal privatisasi BUMN yang selama ini berkembang. Privatisasi, katanya, sebenarnya melepaskan kontrol negara atas BUMN itu, namun yang terjadi selama ini pelepasan saham di bawah 50 persen dianggap privatisasi.
“Itu bukan privatisasi, melainkan restrukturisasi kapital, sebab bila hanya menjual 20 persen saham, pemerintah tetap menjadi pengontrol BUMN, katanya.
Ia menilai terjadi logika berpikir terbalik, yakni hasil privatisasi digunakan untuk membayar utang luar negeri sehingga citra privatisasi menjadi buruk di mata publik.
Menurut dia, hasil privatisasi tidak digunakan untuk membayar utang, terutama utang luar negeri, tetapi untuk memperkuat struktur permodalan BUMN agar bisa “go international”. Sebagian keuntungan itulah, katanya, yang seharusnya digunakan untuk bayar utang.
Ia mengatakan sebagian besar BUMN Indonesia juga masih menjadi jago kandang dan belum banyak melakukan penetrasi pasar di luar negeri. Kondisi ini sangat berbeda dengan BUMN di China, Thailand, Malaysia, dan Singapura.
Tampil sebagai pembicara budayawan Prof. Eko Budihardjo dan Natal Iman Ginting dari PT Telkom.
Eko Budihardjo pada kesempatan itu secara berseloroh menyindir, “China sudah menetapkan diri sebagai penghasil `hardware` (peranti keras), Singapura `software` (peranti lunak), sedangkan Indonesia `no where.” (*)

Bookmark and Share

Comments are closed.

  • Terpopuler
  • Terkini
  • Komentar
  • Tags
  • Turunkan SBY, Bentuk Dewan Revolusi Rakyat dan Kembali ke UUD 1945 asli
    2011-12-20 13:53:16 - 2 comments
  • Diusut Pelanggaran Kode Etik Hakim Dalam Kasus Antasari
    2011-04-15 13:53:12 - 1 comments
  • Diluncurkan Kisah-kisah Pribadi Pak Harto
    2011-06-08 13:50:17 - 1 comments
  • Kata Jeffrey: Rakyat Sudah Muak Dengan SBY
    2011-08-10 10:29:01 - 1 comments
  • Pembantaian Mesuji Pelecehan Asing Pada Bangsa Indonesia
    2011-12-19 15:04:00 - 1 comments
  • Bubarkan Partai Demokrat
    2012-01-17 14:30:34 - 1 comments
  • Suruh semua anggota DPR , kehakiman, kejaksaan, dan Kepolisian mundur ...
    Hati menangis: 2012-02-03 20:09:22
  • @ RUHUT , keberhasilan yang mana yang telah dibuat oleh pemerintahan S...
    Andhika: 2012-01-17 07:57:40
  • Ayo kembali ke Pancasila dan UUD 1945 (ASLI) amanat Pendiri Bangsa...
    Tri Indratno: 2011-12-23 06:12:05
  • Benar tuh, utamanya aku, muak, muak, kayaknya yang diurus cuma partai,...
    Kartini Piliang: 2011-08-11 15:58:02
  • maswadi rauf bisanya cuma komentar tok. berarti anda jg krng bagus. jg...
    djoko m: 2011-06-09 07:12:45
  • Ribuan Anak Disiksa Di Amerika Serikat
    Feb 7, 2012 at 4:49 pm - Tidak ada Komentar
  • Angelina Sondakh Dipecat Dari Partai Demokrat
    Feb 7, 2012 at 4:48 pm - Tidak ada Komentar
  • 2014 Jusuf Kalla Siap Maju Sebagai Capres
    Feb 7, 2012 at 4:46 pm - Tidak ada Komentar
  • Korupsi Akan Terus Meningkat
    Feb 7, 2012 at 3:06 pm - Tidak ada Komentar
  • Angelina dan Miranda Kok Belum Ditahan
    Feb 7, 2012 at 3:05 pm - Tidak ada Komentar
  • Partai Demokrat Sekarat
    Feb 7, 2012 at 3:03 pm - Tidak ada Komentar
  • Capt. Fransesco Schettino Dituntut 2.697 Tahun
    Feb 7, 2012 at 3:02 pm - Tidak ada Komentar
  • Partai Demokrat: Tangan Mencincang Bahu Memikul
    Feb 7, 2012 at 11:04 am - Tidak ada Komentar
  • Era Pemerintahan SBY Utang Meningkat Rp705 Triliun
    Feb 7, 2012 at 11:02 am - Tidak ada Komentar
  • Pemburu Aset Bank Century Bagai Lelucon Politik Tak Lucu
    Feb 7, 2012 at 11:01 am - Tidak ada Komentar
2010 ????? ABC battle Benghazi protest Benghazi riots blood death for Gaddafi HD Indonesia Junior Libia libya Libya protests Libya unrest Libya violence love Lybia mata middle east Moammar Gadhafi Movie music NATO intervention NATO invasion nature New news Nurhaliza Obama revolt revolution RT Siti song Tripoli Tsunami UK uprising US violence West Yogyakarta
B-Watch © 2012 All Rights Reserved.