Indonesia dinilai tidak pantas dijadikan sebagai tuan rumah atau tempat penyelenggara kongres lesbian-gay se-Asia, karena negara ini mayoritas beragama Islam dan menjunjung tinggi moral.
“Sudah tepat, Forum Umat Islam (FUI) di Surabaya menolak secara tegas daerah mereka dijadikan tempat berkumpulnya para kelompok lesbian dan gay,” kata Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut, H. Abdullah Syah di Medan, Senin.
Penolakan yang dilakukan oleh kelompok FUI itu, menurut dia, dinilai sangat tepat untuk menjaga hal-hal yang tidak diingini terhadap pelaksanaan kongres yang direncanakan diadakan di salah satu hotel di Surabaya.
Abdullah Syah juga merasa heran dan benar-benar terkejut, setelah mengetahui di media massa mengenai akan diadakannya kongres lesbian-gay di kota itu.
Apalagi, jelasnya, kota Surabaya itu selama ini dikenal daerah yang memiliki budaya tinggi dan penduduknya juga banyak yang beragama Islam.
“Saya heran, siapa pula yang berani menyetujui kota Surabaya itu jadi tempat kongres lebian-gay. Ini cukup aneh dan perlu dipertanyakan, ada apa dibalik ini semua,” kata Abdullah Syah juga Gurubesar IAIN Sumut.
Rencana diadakannya kongres lesbian-gay se-Asia di Indonesia, menurutnya kemungkinan ada maksud-maksud kelompok tertentu yang seolah-olah berusaha melegalkan kegiatan tersebut di negeri ini.
“Pemerintah Indonesia dalam hal ini tetap melarang kegiatan atau kelompok lesbian-gay tersebut, karena sangat bertentangan dalam ajaran Islam,” tegasnya.
Untuk itu, ia mengimbau kepada mayarakat dan umat muslim agar jangan ikut-ikutan dan tepengaruh dengan kegiatan kongres yang tidak tidak sesuai dalam ajaran agama.
Ia berharap para peserta kongres lesbian-gay itu baik yang berasal dari dalam negeri dan luar negeri, agar secepatnya membubarkan diri dan meninggalkan kota Surabaya.(*)
Kongres GAY Tak Pantas di Indonesia
Diterbitkan pada 29 Maret 2010 oleh B- Watch

