Gunung lumpur Lapindo yang ada di kolam penampungan tepatnya di titik 42 longsor, berakibat terhempasnya sejumlah alat berat milik Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS).
Humas BPLS Achmad Zulkarnaen, Sabtu, mengatakan, longsoran yang terjadi di titik 42 di Desa Reno Kenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo itu akibat adanya perbedaan elevasi antara pusat semburan dengan kolam penampungan di titik 42.
“Akibat adanya perbedaan ketinggian tersebut membuat gunung lumpur yang ada di kolam penampungan tersebut mengalami longsoran,” katanya.
Ia mengemukakan, sedikitnya tiga alat berat berupa kapal keruk dan mesin penyedot harus terkena hempasan hingga terbawa ke pinggir tanggul.
“Bahkan satu di antara alat berat tersebut sempat mengalami kandas dan bantalan pengapung alat berat itu menjadi tenggelam oleh lumpur,” katanya.
Ia menjelaskan, selama ini di titik 42 digunakan sebagai tempat pengaliran lumpur dari pusat semburan menuju ke Kali Porong.
Peristiwa longsoran yang terjadi di kolam penampungan lumpur ini bukan kali pertama terjadi di kawasan lumpur Lapindo.
“Sebelumnya peristiwa serupa juga terjadi di titik 21 tepatnya di kawasan Jatirejo dan berakibat pada terjadinya luberan lumpur di tanggul terluar,” katanya.
Menurutnya, peristiwa longsoran lumpur ini sudah direncanakan oleh BPLS dengan alasan untuk mengurangi beban luberan lumpur ke titik – titik lainnya.
Sesuai dengan skema yang dilakukan oleh BPLS, diharapkan luberan lumpur tersebut mengarah ke titik 25 di kawasan Jatirejo dan juga titik 43 di kawasan Reno Kenongo.
“Hal itu karena di dua titik tersebut sudah disiapkan dua kapal keruk dan mesin penyedot yang berfungsi untuk mengalirkan lumpur ke Kali Porong,” katanya.
Untuk mengatasi masalah ini, BPLS terus berupaya membuat penanggulan di sekitar lokasi longsoran yang saat ini masih memiliki ketinggian sekitar delapan meter.
“Kami berupaya untuk melakukan penanggulan di kawasan longsoran tersebut supaya ketinggian menjadi sebelas meter menuju ke titik aman,” katanya.
Ia menjelaskan, selain melakukan peninggian di tempat tersebut, BPLS juga berupaya untuk melakukan penguatan tanggul yang sudah ada.
“Dengan demikian beban luapan lumpur yang terjadi di dalam kolam penampungan menjadi berkurang dan pengaliran luapan lumpur bisa dilanjutkan kembali,” katanya.
Pada dua pekan lalu, luberan juga terjadi di Jatirejo tepatnya di titik 21 sehingga terjadi `over topping` yang berakibat pada luberan lumpur menuju ke Kali Porong.
“Saat ini BPLS juga terus meninggikan penanggulan dari ketinggian semula yakni delapan meter menjadi ketinggian maksimal yakni sebelas meter,” katanya.(*)
Gunung Lumpur Lapindo Longsor
Diterbitkan pada 21 Agustus 2010 oleh B- Watch

