Kecilnya penyaluran kredit usaha rakyat (KUR), akibat kalangan perbankan tidak serius menyalurkannya untuk koperasi serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Karena mengurus nasabah yang kecil-kecil itu lebih repot dibandingkan mengurus nasabah yang besar-besar.
Menurut Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) Suryadharma Ali, pemerintah menyediakan dana untuk KUR sebesar Rp22 triliun di tahun 2009 ini. Namun, hingga semester I, baru tersalurkan Rp2 triliun.
“Jadi, terbukti dari total Rp22 triliun yang disediakan untuk program KUR, baru sekitar Rp2 triliun yang sudah direalisasikan,” kata Suryadharma Ali saat membuka Dialog Nasional bertema “Efektivitas Penyaluran KUR untuk Mendorong Pertumbuhan UMKM” di Jakarta, Selasa (28/7). Tampil sebagai pembicara, di antaranya pengamat ekonomi A Tony Prasetyantono, Kepala Biro BPR dan UMKM Bank Indonesia Khairil Anwar, serta Deputi Kementerian Negara Koperasi Choirul Djamhari.
Menurut dia, pada 2009, disediakan dana sebesar Rp22 triliun yang bisa diakses oleh semua UMKM dan koperasi. Bank-bank yang ditunjuk pemerintah, di antaranya BRI, Bank Mandiri, Bank Bukopin, dan BNI. Idealnya, setiap bulannya bank-bank tersebut mengucurkan dana untuk kredit sebesar Rp1,75 triliun, sehingga dalam rentang waktu 6 bulan bisa mencapai Rp10 triliun.
“Ketika saya tanyakan alasannya dana tersebut tidak terealisasi, jawaban mereka karena adanya pemeriksaan dari Bank Indonesia. Makanya, saya meminta pejabat di Bank Indonesia, kalau untuk usaha mikro, aturan dan ketentuannya dilonggarkan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Ekonom BNI A Tony Prasetyantono mengatakan, kemunduran penyaluran KUR pada semester I 2009 oleh 6 bank pelaksana, salah satunya disebabkan oleh dampak krisis keuangan global. “Akibat krisis keuangan global ini, bank-bank pelaksana menjadi lamban dalam menyalurkan KUR di semester ini,” katanya.
Krisis keuangan global yang terjadi pada akhir 2008 lalu memengaruhi kinerja perbankan nasional. Dalam hal ini, perbankan mengalami krisis likuiditas, sehingga menghambat pembiayaan atau pengucuran kredit.
“Tidak hanya perbankan, pelaku UMKM dan koperasi juga terkena dampak krisis keuangan global. Mereka akhirnya juga enggan mengakses pembiayaan. Jadi, kemunduran penyaluran KUR di semester I 2009 bukan hanya disebabkan karena 6 bank pelaksana, melainkan juga pelaku UMKM,” ujarnya.
Terkait kemunduran penyaluran KUR untuk 2009 ini, Anton lantas menyarankan agar penyaluran KUR di evaluasi, sehingga bisa efektif. Dalam hal ini, pemerintah dan BI harus bisa mendorong perbankan menyalurkan KUR untuk koperasi dan UMKM lebih maksimal.(*)


maaf mau tanya ini bos, program KUR ini apa pasti ada di setiap kecamatan se indonesia
* Dari Redaksi: Ya kata Meneg Koperasi dan UKM ya ada di seluruh Indonesia, tinggal di cek di BRI atau Bank Bukopin yang ada di daerah masing-masing.