Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat, Bambang Soesatyo, meminta Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk melakukan pengusutan terkait dengan dugaan kualitas bahan bakar minyak jenis premium yang rendah.
“Diperlukan investigasi yang komprehensif dari Polri agar masalah ini bisa dituntaskan sesegera mungkin. Jangan biarkan masalah ini berlarut-larut,” kata Bambang Soesatyo di Jakarta, Minggu.
Ia juga meminta Pertamina dan Polri harus memberi jawaban dan fakta jujur tentang kualitas bahan bakar minyak (BBM) jenis premium tersebut.
“Karena itu, Pertamina dan para distributornya harus bekerja sama dan mendukung langkah Polri melakukan penyelidikan terkait dengan kualitas premium yang rendah,” kata Bambang.
Dia menyatakan prihatin karena sebagian masyarakat terlanjur curiga kepada Pertamina terkait dengan dugaan sengaja menurunkan kualitas (oktan) premium.
“Saya tak percaya Pertamina berani melakukan kecerobohan seperti itu,” katanya menegaskan.
Namun, lanjut dia, sudah berkembang asumsi di masyarakat bahwa modus itu dilakukan Pertamina agar volume konsumsi premium bersubsidi turun, kemudian secara tak langsung mendorong konsumen memilih produk pertamina lainnya yang bermutu lebih baik, seperti pertamax.
Persepsi itu berkembang di masyarakat karena cerita dari mulut ke mulut. Satu minggu sebelum masalah ini dimunculkan di ruang publik, dirinya mendengar langsung dari seorang sopir taksi yang menduga bensin premium mengandung timbal.
“Akibatnya, banyak mobil mengalami kerusakan pada fuel pump,” ujar Bambang.
Keluhan konsumen, lanjut dia, kini meluas sampai ke pemilik kendaraan pribadi. “Saya berharap Pertamina tidak menyederhanakan persoalan ini hanya sebagai `serangan` untuk memperburuk citra BUMN itu, saling salah menyalahkan antara Pertamina versus industri mobil dan perusahaan taksi,” katanya.
Ia melihat persoalan tersebut jauh lebih serius karena kecenderungan ini bisa dikategorikan kejahatan terhadap publik atau konsumen dan adanya persaingan tidak sehat.
“Maksud saya, ada kekuatan pihak ketiga sedang berusaha memperbesar pangsa pasarnya di Indonesia. Untuk mencapai targetnya, produk Pertamina yang `diserang` lebih dulu,” katanya.
Karena itu, kata dia, Pertamina dan para distributornya harus proaktif mencari data-data di lapangan untuk memperkuat temuan dari penyelidikan Polri.
“Saya berasumsi bahwa Pertamina dan para distributornya paling tahu siapa saja pemain besar dalam bisnis distribusi BBM,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan, semua temuan itu hendaknya diinformasikan kepada publik dengan jujur dan fakta yang akurat. Saat ini, katanya, konsumen masih bingung karena belum ada penjelasan yang bisa dijadikan pegangan.
Di satu sisi Bambang mengatakan bahwa Pertamina berhak mengklaim pihaknya tidak melakukan kesalahan. Namun, di sisi lain, Pertamina juga perlu menyimak kajian-kajian praktis yang menunjukkan adanya tanda-tanda menurunnya kualitas premium.(*)
Awas, Kualitas Premium Rendah
Diterbitkan pada 25 Juli 2010 oleh B- Watch

