Ini prediksi pengamat politik LIPI, Prof Syamsudin Haris akan keberadaan parpol Islam yang akan tamat di pemilu 2014.
“Peluang PPP, PKB dan parpol Islam lainnya makin kecil bisa lolos ke Senayan, apalagi kalau parliamentary thrashold (PT) dinaikkan menjadi 5 persen,” katanya.
Ia mengemukakan itu dalam acara bedah buku “Krisis Ideologi Parpol Islam” karya Dr Arif Mudatsir Mandan, yang juga dihadiri pengamat politik Dr Fachry Aly, Senin.
Namun menurut Syamsuddin, bisa saja parpol Islam itu bertahan. Hanya saja, lanjut dia, keberadaan parpol Islam tidak akan jauh berubah dari seperti yang sekarang ini.
“Bisa saja bertahan, tapi ya segitu-segitu saja. Di sisi lain, masih bisa dipertahankan hingga pemilu 2014. Asalkan ada evaluasi dan reaktualisasi dari pemimpinnya, baik tingkat daerah maupun tingkat nasional,” tambahnya.
Lebih jauh katanya, Islam bukan lagi hanya milik partai politik Islam. Bahkan PDIP membuat Baitul Muslimin Islam (BMI), Partai Demokrat membentuk Majelis Dzikir.
Sehingga perlu ada pendekatan lain yang harus dilakukan parpol Islam untuk mempertahankan posisinya.
“PPP ke depan harus lebih inklusif dan moderen serta menjadi partai Islam nasional, yang perjuangannya jangan hanya membentuk negara Islam tetapi negara Pancasila yang Islami,” paparnya.
Yang jelas, katanya, masalah PPP dalam dua pemilu lalu adalah tidak semata-mata soal ideologi tetapi juga soal disorientasi.
“Saya pikir partai Islam akan tetap dibutuhkan walaupun suaranya tidak akan lebih baik. Ini merupakan tantangan yang tidak mudah bagi partai Islam,” ungkapnya.
Sementara itu, Fachry Aly, lebih menyoroti karena PPP tidak punya kemampuan untuk bertahan lagi. Lihat saja, PBB. “P3 hanya mampu menyodorkan ideologi dan kyai. Sedangkan PKS muncul dan mengandalkan ideologi dalam pemilu 2009 yang menurut saya memperoleh prestasi yang cukup berhasil meskipun hasilnya tidak terlalu sesuai dengan harapan PKS sendiri,” cetusnya.
Menurutnya, tidak hanya PPP, bahkan perolehan Partai Golkar dan PDIP juga jeblok, jadi rupanya popularitas sebuah partai mengikuti “mass culture” dan tidak terikat pada budaya etnik.
SBY mampu memanfaatkan proses “mass culture” ini dengan sangat kreatif. SBY terangkat ketika Taufik Kiemas mengatakan SBY adalah jenderal bintang empat dengan kelakuan anak-anak. Kalau partai Islam mau pemimpinnya maju harus mampu main gitar, tidak menyerang sana-sini, tenang seperti SBY.
Dijelaskannya, parpol-parpol Islam sulit meraih kursi, padahal mayoritas penduduk Indonesia 90 persen adalah muslim.
“Ini buat saya adalah sebuah ironi. Perolehan suara partai-partai Islam kalau dijumlahkan pun hasilnya tidak akan mampu menyaingi perolehan suara partai sekuler seperti Partai Golkar, PDIP atau Partai Demokrat,” terangnya.
Ketua DPP PPP Arief Mudatsir Mandan mengatakan, salah satu faktor terus turunnya perolehan suara partai-partai Islam, khususnya PPP, pada setiap pemilu adalah telah terjadinya krisis ideologi serta ketiadaan aktor-aktor politik yang mampu memobilisasi dukungan.
Dalam bedah buku “Krisis Ideologi: Catatan Tentang Ideologi Politik Kaum Santri Studi Kasus Penerapan Ideologi Islam PPP” di Jakarta, Senin, dia mengatakan, ada fakta yang memperlihatkan semakin langkanya aktor-aktor politik yang mampu memobilisasi dukungan massa
“Mengapa partai-partai Islam tidak pernah menang dalam setiap penyelenggaraan pemilu, sementara mayoritas penduduk di Indonesia beragama Islam. Bahkan jika seluruh suara partai-partai Islam digabung, itupun belum mampu menandingi suara partai sekuler. Ini merupakan satu kondisi yang ironis,” ujar Arief.
Dalam diskusi yang menghadirkan pula dua pengamat politik Fachry Ali dan Syamsuddin Haris itu, Arief menjelaskan, fenomena itu telah mengusik rasa keingin tahuannya dan kemudian ia melakukan satu penelitian terhadap konstituen PPP di Jepara, Jateng, dan hasilnya dituangkan dalam desertasinya.
“PPP telah kehilangan aparatus ideologi yang tangguh yang dapat menterjemahkan ideologi Islam dalam praktek politik sehari-hari,” ujarnya.
Karenanya, menurut dia, jika PPP ingin terus mendapat dukungan masyarakat, maka partai itu harus segera berubah menjadi partai yang lebih inklusif dan modern. PPP harus melakukan pembaruan politik secara substansial dengan pemaknaan ideologi Islam yang lebih populis dan praktik ideologi yang membumi.
Sementara itu peneliti LIPI Syamsuddin Haris mengatakan, dilema partai Islam atau PPP itu sebenarnya sudah menjadi bahan kajian sejak lama. Dari berbagai kajian itu, penjelasan yang umum adalah Islam secara sosiologis tidak otomatis Islam secara politik.
“Santri akan ikut kiai untuk masalah agama, tetapi untuk masalah demokrasi dan politik ada kebebasan individual. Ini berarti pula bahwa politik aliran itu sebenarnya sudah mati,” ujarnya.
Dia menilai pula bahwa ideologi Islam PPP itu sebenarnya sudah tidak terlalu jelas karena Islam yang sama juga telah menjadi milik partai-partai sekuler atau nasionalis.
Senada dengan Arief Mudatsir, Syamsuddin Haris juga menyatakan bahwa sudah saatnya bagi PPP untuk berubah menjadi partai yang lebih terbuka dan modern. Tanpa adanya perubahan-perubahan sesuai perkembangan zaman, maka partai itu tidak akan pernah menjadi besar.
“Bahkan jika persyaratan parliamentary treshold ditingkatkan menjadi lima persen, maka partai-partai Islam seperti PPP dan PKB akan terancam,” ujarnya. (*)

