Industri telematika diperkirakan membaik kembali tahun depan (2010), dengan pertumbuhan yang sama dengan tahun 2008 sebesar 11 persen.
”Tahun depan, terutama negara Uni Eropa akan membaik pada semester pertama tahun 2010, sehingga pasar ekspor akan naik,” kata Direktur Telematika Ditjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Depperin Ramon Bangun saat pembukaan Pameran Industri Telekomunikasi di kantor Depperin Gatot Subroto Jakarta, Selasa, 28 Juli 2009.
Sedangkan pertumbuhan industri telematika pada tahun ini diperkirakan akan lebih rendah ketimbang tahun lalu. “Tahun ini diperkirakan hanya tujuh hingga delapan persen,” katanya.
Menurut Ramon, penurunan pertumbuhan itu akibat permintaan dunia pada beberapa produk terutama printer sedang menurun. “Tahun lalu ekspor mencapai US$1 miliar, yang didominasi produk Epson,” ujarnya.
Dia mengakui, pabrik printer terbesar di dunia, Epson akan mengurangi produksi tahun ini akibat menurunnya permintaan. “Mereka belum laporkan berapa pengurangan produksi, tapi tidak sampai layoff tenaga kerja, paling hanya mengurangi shift,” katanya.
Meski beberapa produk telematika mengalami penurunan ekspor, namun beberapa produk lain seperti Sanyo mengimbanginya dengan peningkatan ekspor.
Ramon menambahkan, pertumbuhan industri ini yang akan kembali pada angka 11 persen pada tahun depan bakal meningkatkan utilitas produksi. Selain itu, diperkirakan share industri telematika yang semula lima persen bakal naik 10 persen. “Terutama, dengan kewajiban BWA dan USO yang mewajibkan capex (belanja modal) 40 persen di Indonesia,” ujarnya.
Untuk tahun 2009, diperkirakan nilai belanja modal dari operator telekomunikasi utama seperti Telkomsel, Indosat, dan XL akan mencapai Rp 45 triliun.
Pada saat ini, beberapa produk pendukung peralatan telekomunikasi seperti kabel serat optik, perangkat satelit, radar, stasiun bumi, BWA/Wimax, dan tower berkembang secara signifikan.
Bahkan, industri kabel serat optik yang didukung tujuh perusahaan dalam negeri dengan kapasitas produksi 93 ribu kilometer per tahunnya dan TKDN sebesar 80 persen sebagian telah mampu diekspor.(*)

